Perjalanan 1000 kilometer Menyusuri “The Majestic Banyuwangi”

 

img_20180611_064534
Ijen Crater – (pic: idep)

 

 

 

Traveling adalah salah satu cara saya untuk menikmati hidup dan mensyukurinya.

Mengapa? Karena dengan traveling, ada begitu banyak hal yang saya dapatkan. Di antaranya adalah kepuasan batin, menambah pengalaman dan mendekatkan diri kepada alam juga sang Pencipta.

Oleh sebab itu, saya dan istri memiliki resolusi yaitu setiap tahun mengunjungi setidaknya satu tempat yang belum pernah kami datangi. Dan pada akhir 2017 kemarin, saya memutuskan bahwa Banyuwangi akan menjadi salah satu target destinasi kami.

Kenapa Banyuwangi? Alasan pertama, tentunya karena kami berdua sama sekali belum pernah berpetualang ke Banyuwangi. Dan alasan kedua adalah Banyuwangi masuk ke dalam daftar “10 Destinasi Branding” wonderful Indonesia yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia. Jadi, rasa penasarannya dobel… Haha…

 

***

Karena rasa penasaran itulah akhirnya kami memutuskan untuk mengeksplor pariwisata yang ada di Banyuwangi beberapa waktu yang lalu.

Seperti biasa, walau memiliki target lokasi yang akan dikunjungi, saya hampir tidak pernah menyusun itinerary sebelum bepergian. Oleh sebab itu ketika memutuskan akan ke Banyuwangi, target utama kami sementara hanya mengunjungi kawah Ijen. Sisanya? Nanti saja lihat setelah di sana. Haha…

Yah memang beginilah cara kami ketika berpetualang. Menikmati sensasi dan kejutan serta improvisasi ketika jalan-jalan menghadirkan keasyikan tersendiri.

***

Oh iya, untuk perjalanan liburan kali ini kami berdua akan menggunakan roda dua. Touring! Dan ini bakal jadi touring terjauh kami.

Perjalanan dari Lombok hingga Banyuwangi kami tempuh dalam waktu kurang lebih 16jam. Rutenya adalah Mataram – pelabuhan lembar – pelabuhan Padangbai – Tabanan – Pelabuhan Gilimanuk – Pelabuhan Ketapang – Ijen.

Menyebrangi 2 selat yakni Selat Bali dan Selat Lombok dan menempuh jarak kurang lebih 310 km dari Mataram sampai ke Ijen, Banyuwangi. Perjalanan yang panjang dan melelahkan.

Sore setibanya di Ijen kami langsung menyewa penginapan di daerah Licin, kampung terakhir sebelum kawasan wisata Ijen. Setelah beristirahat melepaskan keletihan dan kantuk, tepat tengah malam kami berangkat menuju Paltuding. Starting point untuk pendakian ke Gunung Ijen.

Ternyataaaaaa bener kata pepatah.. “no pain… No gain”

Untuk mendapatkan hasil yang indah, dibutuhkan perjuangan yang luar biasa pula.

 

Ketika start dari penginapan ke Paltuding, kami harus melewati jalan berliku tajam, menanjak, gelap gulita dan bonus hujan lebat. Cukup memacu adrenalin di tengah malam buta. Untungnya ketika tiba di Paltuding, hujan berhenti. Segera kami mendaftar di bagian registrasi, bayar lalu mempersiapkan alat (jaket, masker, senter, dll) dan logistik (snack, air minum) yang harus dibawa.

Pendakiannya sendiri lumayan menguras tenaga. Dalam cuaca yang dingin, ditambah jalan menanjak dengan tanah yang cukup licin menambah tingkat kesulitannya.

Bersama ratusan pendaki lainnya dan juga para penambang belerang lokal yang lalu lalang, akhirnya kami tiba di puncak Ijen sekitar pukul 3 pagi.

Langit begitu clear dengan taburan jutaan bintang di angkasa begitu indah… Bintang-bintang itu rasanya begitu dekat, seolah-olah persis berada di atas kepala kita. Tak putus kami mengucapkan “how great is our God”.

Setelah sejenak beristirahat, kami turun menuju kawah untuk menyaksikan fenomena alam “blue fire” yang legendaris itu dengan mata kepala sendiri secara langsung.

ijen 2
sunrise chasers – (pic: idep)
ijen
Ijen Crater – (pic: idep)

How lucky we are!!

Lidah api kebiruan menari-nari begitu indahnya. Oh iya, buat yang belum tau, fenomena alam “Blue fire” ini hanya dapat disaksikan di dua tempat di bumi. Di Ijen dan di Islandia.

Setelah puas menikmati “Blue fire”, kami kembali ke puncak untuk menanti “sunrise” muncul. Selain momen si api biru, momen matahari timbul di ufuk timur adalah yang paling ditunggu di Ijen.

Perlahan sang surya mulai muncul perlahan di ufuk Timur… Indah sekali!

Teringat akan slogan pariwisata Banyuwangi yang dulu yakni “Sunrise of Java”.

Catatan buat kalian yang ingin ke Ijen untuk pertama kalinya:

  1. Waktu terbaik untuk berkunjung ke Gunung Ijen adalah di musim kemarau pada bulan Juli sampai September.
  2. Untuk kalian yang tidak kuat “hiking” dapat memanfaatkan penyewaan “ojek trolley” yang akan mengantar kalian naik turun puncak Ijen.

 

***

Puas menikmati Ijen, kami memutuskan untuk kembali beristirahat di penginapan dan siangnya kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Pulau Merah. Berkendara kurang lebih 3 jam dengan kecepatan rata-rata 60-80km/jam, kami tiba di Pantai Pulau Merah.

Setelah suasana gunung yang sejuk, pilihan terbaik selanjutnya tentu saja pantai yang hangat, bukan?

5.jpg
Pantai Pulau Merah – (pic: idep)

 

Pantai Pulau Merah ini sungguh rapih. Itulah kesan pertama yang muncul ketika kami sampai. Buat kami yang “kenyang akan pantai-pantai” di Lombok, Penginapan yang berjajar di dekat lokasi pantai, warung makan yang ditata, penjaga pantai yang aktif benar-benar membuat kami tak menyesal jauh-jauh ke pantai ini. Segera kami memarkir motor lalu menggelar kain pantai untuk leyeh-leyeh menanti sunset yang akan segera datang.

Senja terbenam, pantai nan indah, suara debur ombak, secangkir kopi instan plus cemilan di tangan, dan pelukan sang terkasih.

pantai pulau merah
waiting for sunset – (pic: idep)

Perfetto!!!

9.jpg
maafkan kenarsisan kami 😛

***

Kamipun menginap semalam di sebuah homestay yang bersih, fasilitas komplit (AC, WiFi, kamar mandi dalam) seharga 250rb/malamnya.

Keesokan harinya setelah browsing sana-sini kami memutuskan akan mengunjungi satu tempat yang lagi hits di Instagram. Namanya “De Djawatan”. Pantai Pulau Merah ke Depan Djawatan ini berjarak tempuh +-2,5jam.

de jawatan
De Djawatan – (pic: idep)
de jawatan #2
The views – (pic: idep)

De Djawatan sendiri dulunya adalah tempat pengelolaan kereta api, namun kini menjadi sebuah destinasi yang sedang naik daun karena lokasinya yang Instagram-able. Kumpulan pepohonan trembesi yang berusia puluhan tahun ini berada di Benculuk, Kecamatan Cluring, Banyuwangi. Sekilas mirip hutan Fangorn yang ada di dalam Film The Lord of The Rings. Pengelolanya cukup kreatif menata lokasi ini, dengan menambahkan fasilitas seperti tempat duduk, rumah pohon, penyewaan ATV, delman dll. Dengan harga tiket masuk per-orang yang hanya Rp 2000 sungguhlah membuat De Djawatan wajib kalian kunjungi ketika ke Banyuwangi.

Sambil menikmati rimbun dan kerennya De Djawatan, saya kembali browsing untuk mencari destinasi terdekat yang pantas untuk didatangi. Akhirnya terpilihlah “Pantai Plengkung” menjadi tujuan berikutnya.

Tak menunggu lama, saya memacu motor menuju Pantai Plengkung yang berada di Kawasan Hutan Alas Purwo. Pantai yang juga terkenal dengan nama G-Land ini konon adalah pantai favoritnya para surfers dunia. Itulah salah satu sebabnya saya menjadi penasaran akan pantai ini.

Sayangnya, ketika kami tiba di Plengkung, hari sudah terlalu sore sehingga kami hanya sempat menikmati suasana sunset tak lebih dari 15 menit. But thats okay, at least Plengkung Beach is finally checked in my list.

plengkung
Plengkung Beach – (pic: idep)

Suasana semakin gelap, kami memutuskan beranjak menuju Ketapang untuk menginap semalam sebelum kembali pulang. Hampir 3 jam kami tempuh hingga tiba kembali di Ketapang dan penginapan kelas melati menjadi tujuan kami. Maklum, travelers pas-pasan. Haha.

***

Keesokan harinya sekitar jam 9 kami berkemas dan menuju pelabuhan Ketapang yang berada tak jauh dari penginapan.

Sebelum masuk ke area pelabuhan, kami menyempatkan diri untuk sarapan di sebuah warung makan. Iseng menanti pesanan datang saya pun berselancar ria di internet. Googling tentang taman nasional Baluran.

Entah kenapa hati kecil saya seperti berbicara “mumpung di sini dep, kapan lagi ke Baluran” dan saya pun mengangguk lalu menyampaikan kepada istri.

Let’s go ke Baluran” ujar saya

Lhooo… Gak jadi nyebrang nih?” balas istri

Ini dr google sih ga sampe sejam” kata saya lagi sambil menunjukkan foto-foto Taman Nasional yang ada di gawai saya

Okay….kuy” Istri saya setuju

Kelar makan saya dan istri lanjut ke Baluran… Batal nyebrang ke Bali. Haha…

Yang namanya nge-trip memang selalu ada faktor kejutan dan di sanalah seninya. Kejutan tak berhenti di sana karena nyasar. Yeap, kami sempat nyasar ketika menuju pintu gerbang Taman Nasional Baluran.

img_20180613_135307img_20180613_142734

Akibat dari terlalu asyik menikmati pemandangan di kanan dan kiri, kami melewatkan plank gerbang pintu masuk. Fatal, karena seharusnya dari Ketapang kami cukup menempuh jarak 20km-an saja. Tapi kami melenceng hingga km 50. Haha… Akhirnya putar balik dan setelah memanfaatkan GPS (gunakan penduduk sekitar) kami menemukan pintu masuknya.

Setelah registrasi dan sedikit berbincang-bincang mengenai Taman nasional dan fasilitasnya dengan petugas, kami pun masuk Taman Nasional Baluran.

Jadi, Taman Nasional Baluran ini adalah “Afrika-nya Indonesia” prenssss….

Jarak dari gerbang masuk sampai ke Savana Bekol +-10km. Sepanjang jalan kami berdoa agar motor kami cukup kuat, karena mayoritas jalan yang dilalui adalah jalan berbatu tajam. Kekhawatiran kami “mudah-mudahan gak pake acara ban bocor” karena akan jadi musibah mengingat di sepanjang jalan hanya ada rerumputan, pepohonan, hewan.

baluran
Savana Bekol – (pic: idep)
baluran 3
sunset at savana bekol – (pic: idep)

Setelah berkendara sangat pelan nyaris 45menit, sebuah padang savana luas dengan banyak kerbau dan monyet di tengahnya menyambut kami. Namanya Savana Bekol.

Sesekali kami berhenti menepi untuk berfoto sambil mengamati sekeliling, lalu kami pun menuju Pantai Bama yang berjarak kurang lebih 3km dari Savana Bekol. Savana Bama berada di tengahnya antara Savana Bekol dan Pantai Bama. Beberapa kawanan monyet, burung, rusa dan kerbau nampak di Savana Bama.

Taman Nasional Baluran memiliki dua spot yang biasanya didatangi pengunjung, yaitu Savana Bekol dan Pantai Bama. Keduanya memiliki fasilitas penginapan bagi pengunjung yang ingin menginap. Setibanya di Pantai Bama, kami langsung ke pantai. Air laut sedang surut sore itu. Namun tidak mengurangi keindahan pantainya. Tak jauh dari pantai ada dermaga mangrove dengan jembatan yang dikelilingi bakau begitu cantik.

Sore itu pengunjung tidak banyak, selain kami berdua tak kurang 10 pengunjung yang ada. Asyik banget pokoknya! Selain penginapan, fasilitas yang diberikan di Bama ini sangat oke menurut saya. Toiletnya bersih dan rapih, mushollanya juga. Juga terdapat kantin di sudutnya. Pas banget buat kami mengisi perut sambil mengadopsi sejenak.

Sembari menyantap late lunch (or early dinner?), kami ngobrol banyak dengan si ibu penjaga. Saat itulah kami putuskan kalau kami akan menginap semalam lagi di Savana Bekol. Sepertinya kami cukup tergoda akan sensasi menginap di tengah-tengah alam liar.

img_20180613_164533
Pantai Bama

Ditengah jalan kembali menuju ke Savana Bekol, kami sempat menikmati sunset yang begitu menawan.

Suasana semakin remang kami menuju penjaga penginapan untuk menyewa kamar. Ada beberapa pilihan penginapan sederhana. Please, jangan bayangkan penginapan bintang 5 dengan segala fasilitasnya. Harga kamarnya per malam hanya 150-300rb. Tentunya kami memilih kamar termurah Donk. Hihihi…

img_20180614_092404
penginapan murah meriah di savana bekol – (pic: idep)

Dari Pak Anies, sang penjaga, kami mendapat info listrik di penginapan hanya akan menyala sampai jam 10 malam. Setelah itu generator akan dimatikan kecuali di pos jaga.

Wah! Udah kebayang serunya!

Benar saja, sepanjang malam yang terdengar hanya suara angin, burung, monyet-monyet yang bermain lepas di sekitar Savana. Hape tak berfungsi maksimal karena sinyal internet yang “gagap”. Tapi tak mengapa, karena kami memang pure ingin menikmati keheningan dan alam tanpa distraksi teknologi.

Sebuah sensasi yang huwow…

Pengalaman pertama yang mungkin belum tentu akan terulang lagi. Bayangan saya malam itu adalah “oh begini rasanya hidup di padang savana di Afrika sana”. Haha…

Ketika pagi datang, kami bergegas ke luar menyaksikan kerbau-kerbau datang ke Savana Bekol untuk mandi dan minum di kubangan kolam. Duduk di pinggiran Savana sambil menikmati hewan-hewan di kejauhan.

Dari hasil obrolan dengan Pak Anies semalam, kami mendapat info bahwa sebenarnya ada banyak spesies yang ada di Taman Nasional Baluran ini. Selain yang sempat kami lihat dengan mata sendiri seperti monyet, kupu-kupu, Banteng, kerbau liar, Ajag, Kijang, Rusa ada juga Macan tutul, kancil, kucing bakau. Total 26 jenis mamalia dan 155 jenis burung.

Amazing!!

Sama sekali tak berlebihan kalau Taman Nasional Baluran ini disebut “Afrika-nya Indonesia”.

Bagi para pengunjung yang ingin melihat lebih banyak spesies yang ada, dapat menyewa rangers untuk diantarkan ke spot-spot spesies tersebut.

Terus nih, berkat kami yang kepo dan banyak tanya ke Pak Anies yang bersahabat itu, kami juga dapat satu referensi wisata sebelum pulang, namanya Waduk Bajul mati yang berjarak tak jauh dari gerbang pintu masuk Taman Nasional Baluran.

Ya udah dong, karena katanya lokasinya ga jauh jadi keluar Baluran kami langsung melipir ke Waduk Bajul mati.  Kira-kira 10 menit kemudian kami sampai.

Waduk Bajulmati adalah sebuah waduk yang terletak di perbatasan wilayah Kabupaten Banyuwangi dengan Kabupaten Situbondo , Provinsi Jawa Timur , Indonesia . Waduk Bajulmati yang terletak diantara Gunung Baluran dengan Pegunungan Ijen ini dibentuk dengan membendung Sungai Bajulmati sebagai sumber air utamanya dengan luas hampir 100 km persegi dan dapat menampung air dengan kapasitas maksimal 10 juta meter kubik. Istimewanya Waduk Bajul Mati adalah gundukan-gundukan tanah menyerupai pulau kecil di tengah waduk dan panoramanya yang indah menjadikan waduk ini sangat “Instagram-able“.

waduk bajul mati
waduk bajul mati – (pic: idep)
IMG_20180614_130246.jpg
another view of bajul mati – (pic: idep)

Waduk Bajul mati dapat menjadi opsi wisata tambahan ketika mengunjungi Taman Nasional Baluran.

Beneran gak nyesel deh kemarin memutuskan gak jadi nyebrang pulang. Karena bisa dapat 2 objek bonus di liburan kali ini

***

Time to go home

Kelar menikmati Bajul mati kamipun langsung bergegas menuju Pelabuhan Ketapang untuk pulang kembali ke Lombok.

Sesampainya di rumah dan saya menghitung jarak tempuh yang kami jalani selama explore Banyuwangi kemarin. Ternyata mencapai 1000kilometer. Gokil euy!

***

Terus terang walau sejak lama bermimpi untuk jalan-jalan ke Banyuwangi, saya tidak pernah membayangkan bahwa Banyuwangi memiliki begitu banyak objek wisata yang keren-keren buangettt.. dan menurut saya sih objek-objek wisatanya teroganisir dengan baik.

Tidak heran sampai masuk ke 10 destinasi branding wonderful Indonesia.

Seperti taglinenya kini, Banyuwangi memang “majestic”.

 

 

 

 

 

 

 

 

2 tanggapan untuk “Perjalanan 1000 kilometer Menyusuri “The Majestic Banyuwangi”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s