Kisah pelari gendut ikutan Rinjani 100

Sesekali, lakukanlah hal gila dalam hidupmu. Rasanya menyenangkan dan membuat hidup terasa lebih hidup.

Saya ingat saya pernah membaca sebuah kalimat kurang lebih seperti kutipan di atas.

Dan tempo hari saya baru saja melakukan salah satu hal tergila dalam hidup saya. Setidaknya menurut saya sendiri sih.

*****

Seperti yang sering saya ceritakan di blog ini, bahwa 2 tahun terakhir ini saya cukup intens berolahraga lari. Salah satu efek dari bergabungnya saya dengan sebuah komunitas lari Lombok Based RunnersRunJani“.

Pengalaman demi pengalaman saya dapatkan ketika semakin mengenal dunia lari. Mulai dari nambah kawan begitu banyaknya, mengikuti event lari pertama di Lombok Marathon 2016, join Virtual Run en ColorRun, sampai pecah Half Marathon pertama di Karang Asem Run dan masih banyak lagi.

Seperti halnya belajar, semakin mendalami dunia lari, semakin rasanya nggak tau apa-apa soal lari. Contohnya, selama ini nggak tau pentingnya pemanasan sebelum berlari dan pendinginan sesudah berlari. Atau baru tau kalo ada lari yang levelnya ekstrim. Namanya Ultra atau Trail. Kalau ultra ini lari dengan jarak tempuh di atas 42,195km (Full Marathon), sementara trail run adalah berlari tidak pada lintasan road alias larinya ke hutan, gunung, bukit.

Nah, kegilaan yang saya maksud di atas itu ada hubungannya dengan lari-larian.

Kegilaan itu adalah berlari di Gunung Rinjani. Kalau orang “normal” ke Rinjani itu mendaki, berkemah, santai-santai mancing di Segara Anak, mandi air panas di Aiq Kalaq, kalau saya malah lari-larian di Rinjani. Lari paling jauh aja cuma 23k di road, lah ini mau nyoba 27k dan nanjak gunung!

Di postingan ini saya akan cerita pengalaman pertama ikutan event trail run.

Nama event-nya Rinjani 100.

Rinjani 100

*****

Rinjani 100 pertama kali diadakan pada tahun 2016 dengan 4 kategori jarak yaitu 27k, 36k, 60k dan 100k. Event ini sebelumnya bernama MRU (Mount Rinjani Ultra) 52k dan RAR (Rinjani Altitude Run) 22k.

Pada penyelenggaraan tahun ini panitia kembali menghelat 4 nomor kategori persis seperti 3 tahun sebelumnya.

Rinjani 100

*Daftar kategori, jarak dan elevasi*

Trus, pelari gendut daftar yg kategori berapa dep?

Ya tentunya yang paling pendek jaraknya lahhhhh… . 27k. Haha!

Saya sadar diri banget kok untuk ngga sok-sokan daftar kategori yang saya sendiri ngga ngerasa mampu mencapainya.

Motivasi awal ikutan Rinjani100 kelas 27k nggak muluk-muluk sih. Bukan ngejar target waktu atau medali, tapi hanya untuk mengukur kemampuan diri sendiri sambil piknik elevasi #tsahh…

Malahan supaya tidak mematok target tinggi yang akhirnya bisa menjadi beban untuk diri saya sendiri, saya bilang ke istri “anggap aja beli Jersey race-nya”. Kebetulan waktu daftar, saya daftarnya offline via komunitas, jadi harganya sangat murah. Gak beda jauh sama beli Jersey lari. Berbeda ketika mendaftar online, harganya sangat mahal untuk ukuran saya yang pelari ber-bujet. Haha!

*Daftar harga registrasi*

*****

Persiapan menuju Race

Untuk persiapan menuju Rinjani 100 bisa dibilang latihan saya nggak cukup bagus dan memadai. Nggak pernah latihan nge-trail, nggak pernah latihan repeat-hill, nggak pernah latihan tempo dan interval. Latihan yang saya lakukan hanyalah sebatas short run ( di bawah 10k), beberapa kali long run (10-18k) pokoknya total 100k/bulan, juga latihan core yang cuma 2 Minggu sekali.

*Training History*

Please, buat kalian yg pemula kayak saya, hal ini sangat tidak baik untuk ditiru. *Tutup muka*

*****

Race time.

Beberapa hari menjelang race, adrenalin mulai terasa walau tidak se-deg-degan ketika race HM di Lombok Marathon dan KarangAsemRun. Kembali lagi mungkin karena saya tidak mematok target harus finish under COT (cut-off-time).

Oh iya, fyi, untuk kategori 27K COT-nya adalah 9 jam. Artinya setiap peserta harus finish sebelum 9 jam untuk mendapatkan medali finisher.

Sejujurnya ada beberapa alasan kenapa saya tidak mematok target finish under COT selain persiapan yang tidak maksimal. Alasan lainnya adalah saya kan belum pernah ikutan trail run baik resmi maupun latihan. Dan alasan kedua adalah pengalaman 2x mendaki Rinjani dimana kali pertama saat mendaki dulu waktu yang saya butuhkan untuk mencapai pelawangan Sembalun +- 13jam dan kali kedua waktu yang saya tempuh untuk mencapai pelawangan Sembalun +- 11jam. Dan keduanya itu one way. Bukan tek-tok. Sementara kali ini saya harus tek-tok dari kantor Taman Nasional Gunung Rinjani ke Pelawangan Sembalun dalam waktu 9jam atau kurang. ๐Ÿ˜

What. A. Big. Challenge.

Ada beberapa kendala kecil yang juga saya hadapi sebelum hari race. Salah satunya adalah soal sepatu khusus trail yang baru saya miliki (uhuks! ๐Ÿ˜‚), sama sekali belum pernah dicoba lari pada lintasan off-road. Dua kali percobaan berlari menggunakan sepatu trail ini hanya di road kurang dari 7k. Untuk yang belum tau perbedaan sepatu road dan sepatu trail, perbedaan signifikan adalah pada bagian sol sepatu dimana sepatu trail memiliki grip/outsole/tapak bawah lebih bergerigi. Analoginya adalah ban pada sepeda motor trail yang berbeda dengan ban motor konvensional yang lebih soft n mulus. Sol bergerigi ini digunakan agar ketika menghadapi track berbatu/tanah yang tidak rata, pelari tidak mudah terpeleset.

Selain sepatu, di hari h-1 saya sempat mengalami diare. Bener-bener bikin lemes en panik! Untungnya sampai Jumat siang, diarenya berhenti dan kondisi badan mulai enak. Alhamdulillah!

*****

Hari H.

Jumat siang saya berangkat ke Sembalun bersama kawan-kawan Runjani dan tiba di Sembalun sekitar jam 5 sore. Langsung menuju Race central di hotel Nusantara yang menjadi lokasi pengambilan racepack juga lokasi start/finish untuk kategori 27k dan 36k.

Total ada 1163 peserta dari 39 negara mengikuti event Rinjani 100. Oh iya, Rinjani 100 sendiri adalah sebuah event trail running yang termasuk pada elite grand Slam ultra Indonesia. Selain Rinjani ๐Ÿ’ฏ, ada 4 event lainnya yang termasuk elite grand Slam ultra Indonesia. Yakni, Mesastila peaks challenge, Bromo Tengger Semeru 100 Ultra dan Gede Pangrango 100. Pemenang dari seri-seri tersebut memiliki kesempatan untuk berkompetisi pada hajatan Event Trail paling bergengsi di dunia yakni UTMB di prancis.

Rasanya bangga juga bisa ikutan event keren yang bergengsi ini. Oh iya, konon kata seorang teman, Rinjani 100 ini adalah event trail paling keren se-Asia. ๐Ÿ˜.. makin bangga deh!

Racepack kali ini hanya berisi BIB (nomor dada peserta) dan kaos peserta. Btw, kaos pesertanya keren. Bahannya asyik dan desainnya keceh! Oh iya, selain itu setiap peserta mendapatkan gelang yang juga berfungsi sebagai “chip” yang akan digunakan untuk “sensor” atau penanda ketika tiba pada titik-titik check point.

With costume n BIB

Bracelet chip

Course Map for 27k

Sepulang berfoto dan bercengkrama dengan kawan-kawan komunitas RunJani, kami beranjak ke penginapan yang sudah kami pesan jauh-jauh hari. Kemudian menyiapkan semua keperluan untuk race besok.

Kawan-kawan peserta kategori 100k dan 60k sudah merapat ke garis start di Senaru sejak pukul 10. Start kategori 100 dan 60 adalah Jumat malam pada pukul 23.30 Wita. Sementara peserta 36 memulai lomba pada jam yang sama dengan titik start race central hotel Nusantara di Sembalun.

Di Penginapan yang tersisa hanya kami peserta 27k dan tim support yang juga kawan-kawan komunitas RunJani.

*****

Setelah tidur yang sangat tidak berkualitas, (saya hanya tidur lebih dari 4 jam dan tidak bisa dibilang nyenyak sekali), alarm hp membangunkan saya pukul 3.30 pagi.

Cuci muka, sikat gigi dan berganti kostum. Cuaca Sembalun yang sungguh dingin membuat malas untuk mandi. Jangankan mandi, nyentuh air dengan jari saja sudah membuat menggigil. Haha!

Check gear dulu. Hydropack, tracking pole, Counterpain, Suplemen, minuman, Snack, buff, sarung tangan, kaca mata, semua sudah siap. Sip!

Waktunya sarapan. ๐Ÿ˜

Karena ini adalah lomba yang akan sangat menguras tenaga, sarapan dengan makanan berat sangat penting buat saya pribadi, walau bagi beberapa kawan, saya tidak melihat mereka mengisi perutnya dengan makanan berat. Untuk menu sarapan saya sudah mempersiapkan nasi dan ayam goreng buatan kolonel Sanders itu.. eits ini bukan endorse apalagi iklan. ๐Ÿ˜…

Selepas sarapan, saya memaksa untuk pup agar perut kondusif sepanjang race. Kan ga asyik lagi lari-larian malah sibuk cari tempat buat “nongkrong” ๐Ÿ˜. Setelah perut aman, sekitar pukul 4.15 kami berjalan menuju Race central yang tak jauh dari penginapan. Lumayan, hitung-hitung pemanasan.

Sampai di race central, peserta 27k sudah ramai. Walau suhu semakin terasa dingin, namun Adrenalin mulai terasa meninggi. Nervous dan excited bercampur jadi satu.

Ready for start

Sebelum pemanasan, lagi-lagi saya mampir ke toilet, demi memastikan isi perut tidak “kepenuhan”. Ritualnya sang pelari gendut. ๐Ÿ™ˆ

Setelah pemanasan, check in dengan menunjukkan gelang chip kepada panitia. Hal ini wajib dilakukan agar peserta dipastikan memulai lomba dari titik start.

Tepat jam 5.00 lomba dimulai, bendera start diangkat oleh Kang Hendra Wijaya sebagai event owner Rinjani ๐Ÿ’ฏ dan sekitar 110an peserta kategori 27k melintasi garis start.

*****

The Run

Strategi saya sama seperti di lomba-lomba sebelumnya, yaitu ketika start saya tak ingin ngotot. Alasannya badan belum terlalu “panas” dan saya harus pintar-pintar mengatur ritme. Oleh sebab itu di 7 kilometer awal dari start sampai Padang Savana saya hanya berlari-lari kecil diselingi jalan cepat ketika lintasan agak menanjak. Lagipula berlari di tengah kegelapan (penerangan jalan hanya dibantu headlamp pelari) dengan lintasan tanah berdebu tebal juga berbatu besar dan naik-turun sungguh menyulitkan.

Saya berlari beriringan dengan Miq Gigih. Beberapa grup kecil mulai terbentuk, grup teman-teman RunJani sebagian sudah meninggalkan kami sementara beberapa kawan RunJani juga masih ada tak jauh di belakang.

Memasuki Padang Savana Sembalun, sedikit demi sedikit fajar pagi mulai menyingsing di ufuk timur. Headlamp mulai kami matikan. Sesekali sambil berlari kecil saya menikmati momen sunrise yang begitu cantiknya. God is great and the sunrise was beautiful

Tak tahan dengan godaan indahnya alam sekitar, saya pun mengeluarkan hp dari tas. Saling jepret dengan Gigih dan mengambil swafoto sejenak.

Gunung Rinjani dari Padang savana

Rinjani 100

Berhenti sejenak demi mengagumi keindahan ciptaanNya

Rinjani ๐Ÿ’ฏ

Selfie dulu donk

Tak terasa, pukul 6.20 Wita kami sudah berada di check point pertama, di pos 1 pelawangan Sembalun. Kami melapor ke official, scan bracelet sambil minum di WS (waterstation) yang disediakan, lalu kami melanjutkan pelarian.

25 menit kemudian kami mencapai pos 2, pos yang biasanya digunakan pendaki untuk beristirahat bahkan nge-camp. Terdapat banyak tenda-tenda berdiri dan pendaki yang sedang menikmati sarapan.

Kami tak berhenti di pos 2, lanjut ke pos 3 saja. Elevasi mulai tinggi, jalan semakin menanjak dan peluh sudah membasahi baju. Saya dan Gigih bertekad untuk beristirahat di pos 3 saja.

Sekitar 7.20 kami tiba di pos 3.

Wow. Cukup cepat juga rasanya.

Perut saya sudah mulai terasa ingin diisi. Sayapun mengeluarkan roti yang saya bawa. Setengahnya saya habiskan, sisanya saya simpan untuk di perjalanan selanjutnya. 1 butir salt stick (yang konon sebagai pengusir kram) saya minum. Tracking pole, yang sepanjang perjalanan tadi saya sampirkan di tas, saya keluarkan.

10menit kemudian kami melanjutkan perjuangan.

Yeap, perjuangan. Karena lintasan semakin ekstrim. Tanjakan demi tanjakan dengan kemiringan 45-60 derajat siap menyiksa kaki dan pinggang kami. Belum lagi debu yang semakin tebal juga menambah kesulitan setiap peserta yang melaluinya.

Kamipun mulai berpapasan dengan banyak pelari kategori 36, 60 bahkan 100.

*Pic by rungrapher*

Gile juga nih orang-orang, pikir saya. Saya aja belum sampai pelawangan, eh mereka malah udah turun.

Saking beratnya lintasan menuju pelawangan ini, kami semakin sering berhenti. Sekadar untuk ngaso, minum atau saling memberi semangat.

Kali ini strategi yang saya gunakan adalah “lima satu”. Yakni lima kali melangkah, satu kali istirahat. Ditambah mantra “kuat, sehat, tangguh” yang selalu kami rapal untuk menyemangati kaki-kaki kami. Ucapan adalah doa, bukan begitu?

Karena terjalnya bukit-bukit yang harus kami lewati, ditambah kondisi fisik yang mulai melatih, kram pun muncul. Deim!

Saya dan Gigih pun sempat bergantian saling pijit… Haha… What a team.

Setelah entah berapa bukit panjang terlewati, akhirnya nampaklah deretan tenda. Wah! Pelawangan Sembalun sudah di depan mata, coy! Semangat kembali muncul….

Saya pun melirik jam di pergelangan tangan kiri saya. Wah… Masih 09.45. Goks!

*****

Touch down Pelawangan Sembalun!

Rinjani ๐Ÿ’ฏ

At pelawangan Sembalun

Pukul 10.00 kami tiba di check point kedua yaitu di Pelawangan Sembalun. 5 jam kami tempuh untuk melewati 13,5k dan elevation gain 1703m.

Puji Tuhan… Alleluia… Sudah setengah jalan.

Sambil berjalan menuju panitia, saya melirik keindahan danau segara anak dari atas. Lagi-lagi saya terkagum-kagum atas ciptaanNya.

Di WS2, Scan barcode, kemudian menikmati refreshment yang disediakan panitia. Minumannya ada Coca cola, pocari, air mineral. Sedangkan makanan ada buah-buahan (semangka, jeruk), roti lapis dan popmie.

Suasana di WS 2 (pelawangan Sembalun)

*Pic by rungrapher*

Saya hanya memakan jeruk, semangka, dan minum Coca cola juga air mineral, tak lupa me-refill stock minuman.

Sungguh senangnya melihat gerombolan kawan RunJani yang sudah duluan tiba. Kami pun saling menyemangati. Saya keluarkan handphone dan saya menelepon istri untuk mengabarkan bahwa saya sudah tiba di setengah perjalanan.

Lumayanlah setelah nelpon istri, makan refreshment, dan nenggak 1 suplemen (Gu-Gel dan salt stick) energi seperti habis dicas kembali. Badan fresh!

Melihat sisa waktu 3.45 menit saya merasakan kalau rasa-rasanya ada sedikit peluang untuk bisa finish sesuai COT. Segera saya melangkah turun meninggalkan Gigih yang masih berkemas-kemas (sorry ya miq, saya tinggal. ๐Ÿ˜).

Tinggal turun aja nih!

*****

Downhill.

Buat saya pribadi, downhill jauh lebih menyenangkan daripada uphill. Kecepatan saya lebih maksimal. Dengan agak ngebut saya menuruni bukit-bukit berdebu dan cukup curam itu. Banyak pelari yang terjatuh ketika menyusuri bukit penyesalan.

Saya mulai menargetkan diri saya sendiri. Harus bisa tiba di pos 1 sebelum jam 12. Dengan asumsi 2 jam tersisa cukup untuk jalan santai dari pos 1 sampai garis finish.

11.10 saya tiba di pos 3. Sendirian.

Sial ketika meloncat naik pos 3, kaki kanan saya kram luar biasa. Rasanya sakit sekali. Saya menenangkan diri. Lagi-lagi saya menelan salt stick untuk mengusir kram. Cukup lama saya beristirahat sampai kaki dapat diajak kompromi.

“Kuat, sehat, tangguh”.

“Kuat, sehat, tangguh”.

Demikian teriak kepala kepada kaki.

Dengan speed yang menurun, tidak seperti dari Pelawangan ke pos 3, saya menyemangati diri sendiri untuk tiba di pos 2 dulu.

Ternyata setibanya di pos 2, pendaki semakin ramai. Bahkan jauh lebih ramai dari ketika pagi kami lewati. Lagi-lagi saya hanya melewati tanpa istirahat di pos 2.

Dikit lagi, dep… Dikit lagi pos 1.

Padang Savana *Pic by rungrapher*

Panas terik semakin menyiksa, beriringan dengan kram yang mulai “datang-hilang” bergantian di otot lutut bagian belakang. Belum lagi batu-batu kecil yg nyelip masuk ke dalam sepatu benar-benar membuat jalan nggak nyaman. Sementara mau lepas sepatu takut keram ketika jongkok. Huftttt…

*****

Touch down pos 1.

Pos 1. Check point terakhir sebelum finish.

Yess!! 11.47.

Lebih cepat dari target saya.

Senyum-senyum sendiri sambil meringis karena menahan rasa sakit pada kaki.

Minum Coca cola, pocari dan air mineral kemudian Refill stock air minum.

Saya sempat meminta obat semprot pengusir kram pada panitia tapi ternyata hanya ada salep gosok. Ya sudahlah ya… Dari pada gak ada. Tak lupa juga saya menenggak salt stick terakhir yang saya punya.

*****

The real battle.

Jam 11.55 saya meninggalkan pos 1.

Rasanya saya semakin optimis untuk bisa finish di bawah COT.

Kacamata yang sepanjang perjalanan saya abaikan, kini saya pakai. Panas terik dan silau yang menyiksa mata tak bisa ditolerir lagi.

Ternyata…. Perjalanan dari pos 1 menuju garis finish adalah perjuangan yang paling berat menurut saya. Walau elevasinya tak seekstrim pos1 ke pelawangan atau sebaliknya, tetapi kondisi badan yang semakin “ampas”, panas yang luar biasa, plus kram yang menyerang bertubi-tubi di kaki kanan dan kiri membuat saya bisa bilang “this is the real battle”.

Berperang dengan pikiran. Inilah “melawan malas” yang sesungguhnya.

Bahkan untuk keluar sampai ke gerbang bertuliskan Taman nasional gunung Rinjani” saja rasanya panjangggg dan jauhhhh sekali.

Prediksi awal saya meleset. 1 jam tak cukup untuk jalan cepat dari pos 1 sampai finish. Bahkan jarum pendek di jam tangan saya sudah melewati angka 1 dan saya baru memasuki jalan aspal. Deim!

Kebosanan parah melanda saya! Saya mulai parno. Gimana kalau saya blackout di jalan karena panas dan ngedrop lalu gagal finish? Arghh…. Untuk pertama kalinya saya mulai berpikiran negatif. Gawat! Saya menenangkan diri kembali , mulai menyingkirkan perasaan negatif dan bernyanyi- nyanyi lagu rohani. (Halahhhh deppp… Kalau pas begini aja sok relijius… ) ๐Ÿ™ˆ

Saking bosan dan demi menyingkirkan pikiran buruk, saya memutuskan untuk menelepon istri. Memberi kabar tentang posisi terakhir, berjalan sambil ngobrol ngalor ngidul. Bahkan saya sampai menyuruh istri saya ngomong sendiri dan saya hanya mendengarkan ceritanya membahas apa saja agar saya teralihkan dari rasa bosan. Hahaha…

20 menitan ngobrol sambil berharap sudah berada di tikungan terakhir sebelum finish. Tapi kenyataan tak sesuai harapan. Haha… Kok rasanya ngga abis-abis ini jalan aspal… Edyannnnn!

I feel so frustated but i gotta finish this shit! ๐Ÿ˜

keep walking

Akhirnya.. hotel Nusantara nampak di depan. Yes! Yes! Yes!! Tikungan terakhir!! Thanksssssssss.. God…..

Tak terasa, air mata saya menetes. Mungkin begitu terharu setelah melewati perjuangan yang luar biasa ini. 100 meter terakhir saya tak dapat menahan keharuan, di finish line nampak istri saya menyambut dengan sumringah bersama tim support RunJani.

And then i crossed the finish Line…

I Made it!!

*****

8 jam 27 menit!

Official result.

I just Can’t believe it!!!

I got the medal.

The best medal

Rasa senang semakin sempurna ketika melihat Gigih sang partner nanjak juga berhasil finish under COT.

Wooohooo!!

*****

Supaya postingan ini agak berfaedah dikit, izinkan saya untuk berbagi sedikit tips bagi kalian yg juga pemula dan akan mengikuti race trail run. Maafkan kalau si pemula ini lancang/sotoy dan ada yg ngaco tipsnya. Cmiiw, please. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ™

1. Latihan, latihan dan latihan. Gak cuma latihan road, tapi juga trail, repeat hill, interval dan tempo. Jangan kayak saya yang males. ๐Ÿ™ˆ

2. Persiapkan gear dan buatlah check list h-1 barang yang akan dibawa ketika lomba. Pengalaman saya kemarin agak riweuh ketika mau ke titik start buff ngga tau di mana, kelupaan bawa walkman (this is why saya akhirnya nyanyi sendiri instead pake music player), lupa bawa kabel buat power bank, lupa bawa “doping pribadi”.

3. Pelajari Medan yang akan ditempuh, bisa lewat baca-baca referensi di web lomba, postingan peserta tahun lalu, atau nanya ke yang lebih paham. Mencoba rute beberapa kali sebelum race akan memberi keuntungan ketika lomba. Saya bersyukur pernah 2x mendaki jadi cukup ngerti track yang dilalui. Inilah mengapa saya membawa 2 tracking pole yang ternyata sangat-sangat membantu saya ketika menanjak. Gak kebayang kalau saya ngga bawa. Rasanya agak mustahil bisa finish under COT.

4. Istirahat yang cukup sebelum lomba dan jaga makanan. Jangan kayak saya yang makan sembarangan sampai diare di h-1. ๐Ÿ˜ฆ

5. Asah mental, karena lomba semacam ini lebih menyiksa mental dibandingkan fisik. Ketika fisik drop tetapi mental masih kuat, maka kita akan tetap semangat melangkah. Vice Versa. Begitu sebaliknya. Yang membuat saya masih melangkah ketika kram di kaki kanan dan kiri adalah semangat dan tekad. ๐Ÿ˜

6. Atur strategi dengan baik. Jangan “ngegas” di awal tapi malah kedodoran di tengah/akhir.

7. Enjoy the nature and always think positively.

Monggo kalau ada yang mau nambahin, silahkan komen di kolom komentar. ๐Ÿ˜

*****

All the glory must be to the Lord, but i have to say thanks for all Semeton Pelai RunJani.

Thank u Soo much.

RunJani is the best.

Rinjani ๐Ÿ’ฏ CADASSSS!!!!!

2 tanggapan untuk “Kisah pelari gendut ikutan Rinjani 100

  1. I am so glad to find out that you have blogged again personally ๐Ÿ˜Š
    Gw nggak pernah gaul sama anak-anak pelari. Melalui posting ini gw jadi paham bahwa ada event lari-lari biasa keliling kota, ada juga event lari jenis gila kayak ultra/trail ini. Berarti kalo ada yang pingsan di tengah jalan, bisa ditemuin panitia ya? Karena kalian pake gelang pelacak itu kan?
    *sungguh cuma itu aja yang jadi concern gw*

    Suka

  2. Keren sekali ceritanya, Mas Depz, sangat menginspirasi. Banyak info soal lari. Dan saya ikut terharu saat Mas Depz berhasil finish lebih cepat.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s