Nostalgia Masa Remaja Lewat “My Generation”

Kalian semua pasti setuju kalau masa remaja itu adalah salah satu masa terindah dalam hidup. Awas kalau nggak.. *lahh ngancem* 😀 Alasannya adalah karena di fase itu kita mengalami begitu banyak hal untuk pertama kalinya. Seperti merasakan pertama kali jatuh cinta, pertama kali nyetir mobil, pertama kali mencontek, pertama kali membolos, pertama kali berciuman *oopsss 😀 *, dan pertama kali lainya.

Jadi, sangat wajar kalau masa remaja itu menjadi masa yang sulit untuk dilupakan. 

Ngomongin soal masa remaja, saya selalu suka menonton film-film yang mengulik kisah masa remaja. Kalau dari film “Barat” ada beberapa film yang selalu menempel di kepala saya. Seperti Film “Dead poets society” yang dibintangi sang legenda komedi (alm) Robbin Williams, “American pie” yang ceritanya konyol itu, atau ada juga sebuah serial yang sangat happening pada zamannya yaitu “Dawson creek” atau “Saved by the Bell”.. *ehem… Ketauan deh saya kids zaman doeloe kala 🙈*.

*pic by : hulu.com*

Atau kalau film Indonesia yang mengangkat kisah remaja diantaranya film AADC yang dibintangi NicSap dan Dian Sastro.

Dan kenapa saya suka film-film remaja? Ya tentunya karena sedikit banyak ngerasa “related” dan sekarang bisa buat nostalgia masa-masa remaja dulu pastinya 😁.

Beberapa waktu yang lalu ketika asyik surfing di dunia maya, saya membaca salah satu website lokal bahwa pada Tanggal 9 November 2017 bulan depan, akan tayang satu film lokal bertema remaja juga yang bikin saya ga sabar untuk nonton.

Judulnya “My Generation”.

Film ini disutradarai oleh Upi yang dikenal memiliki banyak karya penyutradaraan atau penulis skenario film. Mbak Upi adalah sosok yang sama yang pernah menyutradarai film Realita cinta dan Rock n roll, Radit n Jani, My Stupid boss dan penulis skenario “Surat Cinta Untuk Tuhan”. Yeap, film-film keren itu termasuk dalam daftar film-film yang sukses meraih banyak penonton bioskop di seluruh Indonesia.

Film produksi terbaru dari IFI Sinema ini sendiri bercerita tentang kehidupan remaja/anak muda zaman milenial (kalau bahasa kekiniannya sih “kids zaman now”). Kisah di film ini dimulai dari persahabatan 4 orang anak SMU (Zeke, Konji, Suki dan Orly) yang memiliki petualangan-petualangan dan kejadian seru ketika mereka berempat gagal liburan. Karakter mereka yang berbeda-beda dan unik ditambah dengan konflik-konfliknya yang sangat dekat dengan realitas kehidupan anak masa kini membuat film ini sangat layak untuk ditonton baik oleh kalangan remaja ataupun kalangan orang tua. Dengan segala macam problematika yang dihadirkan di film ini, mbak Upi ingin mengajak penonton (khususnya orang tua) untuk berfikir positif soal pendidikan anak di era millenial dan bersikap open-minded terhadap perubahan realitas perilaku yang terjadi (dan tentunya mencari solusi untuk sisi positifnya).

Kalau buat saya pribadi sih, satu alasan lagi yang bikin saya pengin banget nonton film ini adalah pemain-pemainnya yang baru. Soalnya saya suka males nonton film lokal itu kadang bukan karena ngga tertarik sama ceritanya tapi karena bosan liat pemainnya yang itu-itu aja alias dia lagi, dia lagi. Hihihihi…

Pokoknya film ini layak untuk ditunggu dan disaksikan, jangan lupa catat tanggal mainnya yaaa.. 9 November 2017.

Oh iya, yang penasaran sama trailernya bisa cek di sini.

Dengan menonton film ini semoga kita tak hanya terhibur tetapi juga dapat mengambil nilai-nilai positif yang diberikan dari kisah para remaja dan orang tuanya ini.

Selamat menantikan dan menonton (kelak) yaaa 😀

Traveling dan Suplemen

Di zaman now, traveling tak lagi hanya menjadi sebuah kebutuhan tersier ataupun sekunder. Kini, kebutuhan untuk melakukan traveling sudah menjadi kebutuhan utama atau primer bagi masyarakat. Tak terkecuali buat saya sendiri.

“Kurang piknik bisa menyebabkan cepat panik”, kira-kira begitu prinsip yang saya pegang. Haha..

Setidaknya sekali dalam sebulan saya dan pasangan saya selalu menyisihkan waktu untuk traveling alias piknik. Bagi saya, piknik itu tak mesti harus ke luar kota atau destinasi yang jauh. Sekadar mengunjungi pantai dekat rumah atau bermain-main di spot wisata lokal sudah merupakan pelepas dahaga untuk melupakan sejenak rutinitas hidup. Tapi jika memiliki rejeki lebih, saya dan istri selalu menjadwalkan traveling ke tempat baru.

***

Seperti yang kami lakukan beberapa waktu yang lalu yaitu mengeksplore Kota Bangkalan di Pulau Madura. Berbeda dengan sebagian traveler yang lebih menyukai tipe perjalanan yang nyaman, gampang dan tidak mempedulikan cost atawa biaya, kami berdua lebih memprioritaskan biaya yang murah walaupun kadang mengorbankan kenyamanan selama perjalanan. Istilahnya kalau traveler lain lebih memilih tipe “koper” maka kami adalah tipe “ransel” atau sering disebut backpacker.

Ketika ke Bangkalan, kami backpacker-an dari Surabaya dengan menggunakan kendaraan roda dua. Setidaknya dibutuhkan kurang lebih 2,5 jam dari pusat Kota Surabaya sampai ke Bangkalan, Madura. Sebelum tiba di Bangkalan kami sempat mengunjungi spot wisata Bukit Jaddih yang saat ini sedang fenomenal di sosial media seperti instagram.

Bukit Jaddih sejatinya adalah sebuah lokasi pertambangan kapur yang kini dijadikan tempat tujuan wisata. Dengan sebuah kolam yang memiliki air berwarna hijau tosca kontras dengan tebing-tebing kapur berwarna putih membuat Bukit Jaddih ini sangat instagram-able.Kawasan Bukit Jaddih terletak di Kecamatan Socah, Desa Jaddih Kabupaten Bangkalan Madura-Jawa Timur ini berjarak 10 kilometer dari pusat kota kabupaten Bangkalan.

*bukit jaddih*

Setelah puas mengitari Bukit Jaddih (dan berfoto tentunya), kami juga sempat mampir di Warung Makan Bebek Sinjay. Bagi para pecinta kuliner khususnya pecinta bebek, Bebek Sinjay wajib dicicipi. Dengan sambal pencit-nya, Bebek Sinjay sangat recommended. Maknyus!

*bebek sinjay*

Setelah puas berwisata alam dan wisata kuliner, kami pun memasuki Bangkalan dan berkeliling kota.

Tak terasa sudah seharian full kami ngebolang.

***

Kalau dipikir-pikir, seharian ngebolang begini bikin badan lumayan rontok. Apalagi motoran dan daerah yang didatangi cukup ekstrem dan berjarak tempuh ratusan kilometer.

Namun untungnya selain mengkonsumsi buah dan makanan sehat, saya selalu membekali diri dengan K-Vit C plus Teavigo yang merupakan suplemen multivitamin yang mengandung dua antioksidan, yaitu vitamin C dan teavigo.

 

Vitamin C merupakan antioksidan yang juga sangat baik untuk meningkatkan daya tahan tubuh, melindungi sel-sel kulit dari radikal bebas dan zat berbahaya, meremajakan kulit serta mencegah anemia. Sementara Teavigo merupakan salah satu ekstrak teh hijau yang paling murni.Teh hijau sangat bagus untuk jantung, membakar lemak, pencernaan, hingga kulit karena kandungan EGCG. Semakin besar EGCG, semakin tinggi khasiat ekstrak teh hijau. Selama ini jarang sekali ditemui produk suplemen vitamin C yang dikawinkan dengan teh hijau. Apalagi dengan teavigo. K-Link Indonesia adalah pioner yang memadukan dua kekuatan super antioksidan tersebut.

Teavigo bebas dari pestisida dan herbisida (tidak mengandung bahan kimiawi) serta kafein. Tidak bisa dipungkiri, dan harus diakui, teh hijau yang beredar di pasaran masih mengandung kafein. Teavigo ini diekstrak yang diracik sedemikian rupa sehingga tinggi EGCG dengan kandungan kafein di bawah 0,1% (secara kuantitatif dianggap 0).

Sebagai multivitamin K-Vit C Teavigo untuk menjaga daya tahan tubuh dan stamina, sekaligus juga berkhasiat untuk menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah, mengurangi risiko kanker, memperlambat proses penuaan dan menjaga kesehatan sel saraf.

Pengen tau lebih lengkap tentang K-Vit C Teavigo langsung saja klik web ini

Oh iya, ada diskon s/d 20% untuk member. Juga promo ongkir s/d 30 nopember 2017. Register di sini yaaa.

Yuk ah.. lengkapi dirimu sebelum traveling. Supaya jalan-jalannya makin maksimal en cihuy kayak saya 😀

 

Ini dia “Omah Kayu”-nya Lombok

 *plank omah kayu di Batu Malang

Beberapa tahun yang lalu ketika mengunjungi Kota Batu di Malang, Jawa Timur saya berkesempatan berwisata ke sebuah spot wisata keren. Namanya Omah Kayu. Omah kayu itu ya rumah kayu yang dibangun di atas pohon gitu. Postingan lengkap soal Omah Kayu ada di sini.

Sepulang dari Omah Kayu saya sempat membatin, masa iya di Lombok gak ada yang bisa menciptakan destinasi wisata serupa? Toh banyak sekali tempat di Lombok yang rasanya mirip dengan lokasi wisata Omah Kayu di Gunung Banyak, Batu. Yang kepikiran di benak saya saat itu adalah daerah Sembalun atau Pusuk Lombok Barat. Kedua daerah itu memiliki karakter kontur tanah dan pemandangan yang agak mirip. Tapi itu pemikiran sotoy saya aja sih.

Sampai saat setahun yang lalu ketika berselancar di media sosial instagram saya melihat postingan foto yang mengingatkan saya akan Omah Kayu di Batu. Namanya Rumah pohon Murmas. Jelas saja postingan ini membuat saya penasaran untuk membuktikan dengan mata kepala sendiri. Tetapi baru sebulan yang lalu akhirnya saya berkesempatan mengunjungi Rumah pohon Murmas.

view from rumah pohon murmas

Rumah pohon Murmas berlokasi di Dusun Gangga, Desa Genggelang, Kecamatan Gangga Kabupaten Lombok Utara. Dari pusat kota Tanjung (Lombok Utara) dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 30 menit sedangkan dari pusat Kota Mataram – NTB dibutuhkan waktu 1,5-2jam dengan berkendara.

Konsep Rumah pohon Murmas ini kurang lebih sama dengan Omah Kayu di Batu Malang. Rumah pohon dan spot foto yang dipadukan dengan keindahan alam pedesaan Gangga sebagai background. Oh iya, kelebihan lainnya dari Rumah Pohon Murmas jika dibandingkan dengan Omah Kayu di Batu, di Murmas ini banyak terdapat mural tulisan-tulisan unik yang mengundang senyum. Poto-poto di bawah ini contohnya.

Dan setelah berkunjung ke Rumah Pohon Murmas ini saya akhirnya tahu bahwa rupanya posisi Rumah Pohon Murmas ini tepat berada di atas air terjun Gangga. Untuk informasi tambahan, HTM (harga tiket masuk) ke sini hanya Rp 5000/orang dan itu udah termasuk harga tiket parkir motor. Untuk wisata dengan view seindah ini, rasanya harga tiket masuk ini sangatlah murah.

narsis di rumah pohon murmas

Saya cukup salut dengan pengelolaan Rumah Pohon Murmas ini, selain bersih, sarana toilet juga cukup terawat. DI samping itu, jika pengunjung tidak membawa tongkat swafoto (selfie stick) dan membutuhkan bantuan untuk dijepretin, maka para pemuda yang mengelola di sana sangat dapat diandalkan. Mereka juga dengan ramah dan senang hati untuk menunjukkan spot foto terbaik dan best-angle sekaligus. Jika pengunjung ingin makan ataupun ngemil, tersedia warung-warung yang siap sedia melayani. Mantaplah!

Pokoknya jika kalian sedang berwisata ke Lombok, Rumah Pohon Murmas ini sangat layak untuk menjadi salah satu destinasi yang harus dikunjungi. Apalagi lokasinya searah jika wisatawan dari Mataram yang ingin ke Air terjun Tiu Kelep Senaru, bisa mampir ketika menuju atau saat jalan pulang kembali ke Mataram.

Last but not least, selalu berhati-hatilah ketika mengambil foto.

Safety first and dont litter. Keep Lombok clean, guys.