hellolombokku

menatap senja di lombok

Jangan tanya apa yang negara berikan kepadamu, tetapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negaramu

Quote di atas adalah terjemahan dari kutipan terkenal seorang John F. Kenedy.

Dalam skala kecil kutipan tersebut nyangkut di kepala saya.

Sejak merantau pertama kali empat belas tahun lalu di Lombok, saya selalu bertanya kepada Tuhan apa tujuan saya “dikirim” jauh-jauh meninggalkan keluarga ke sebuah pulau di mana saya tak mempunyai siapapun. Yeap, tak terasa sudah empat belas tahun saya merantau di Lombok. Jawaban pertanyaan itu sendiri sampai sekarangpun tak pernah saya ketahui. Namun saya selalu mencoba percaya Tuhan mempunyai sebuah rencana dan “misi” indah untuk saya.

Lalu apa hubungannya dengan kutipan JFK tadi?

Seperti saya bilang tadi kalau dalam skala kecil kutipan tersebut nyangkut di kepala saya. Saya mencoba Lanjutkan membaca “hellolombokku”

menantang adrenalin di omah kayu

Jujur saya ini orangnya takut sama ketinggian makanya saya memilih istri yang tak lebih tinggi dari saya ๐Ÿ˜›

Kalau menaiki sesuatu bangunan or pohon yang tinggi biasanya saya hanya bersemangat ketika naiknya saja, begitu sampai atas telapak tangan dan telapak kaki langsung berkeringat dingin. Parno gitu deh ๐Ÿ˜€

Tapi walau begitu, saya juga orang yang kadang suka menantang diri saya sendiri. Karena saya tau saya takut akan ketinggian, terkadang saya mencoba menaklukkan ketakutan saya itu. Caranya? Ya berdiri atau memanjat bangunan yang tinggi itu.

Seperti beberapa waktu yang lalu ketika saya dan istri berlibur ke malang. Salah satu tempat wisata yang saya kunjungi ketika #eksploremalang adalah omah kayu.

Omah kayu adalah sebuah objek wisata yang berada di Gunung Banyak, Kota Wisata Batu. Kurang lebih berjarak 25 km dari kota Malang atau sekitar 15 menit saja dari Alun-alun kota Batu. Seperti terjemahan dari bahasa jawa dimana omah kayu berarti rumah kayu, Omah Kayu ini sebenarnya adalah penginapan yang dibangun diatas pepohonan dan berbentuk rumah diatas pohon. Jadi inget masa kecil selalu suka kalau liat pelem ada rumah kayunya. Hayoo, Jujur saja… siapa sih dari kita yang waktu kecil ngga pernah bermimpi punya rumah pohon? ๐Ÿ˜€

Yang membuat omah kayu ini unik selain penginapan rumah kayunya adalah lokasinya yang di sisi tebing Gunung Banyak dan viewnya yang luar biasa indah. Dengan ketinggian +- 1000 meter di atas permukaan laut, posisi omah kayu ini benar-benar asik. Selain hawa dan cuacanya yang sejuk, pemandangan Songgoriti dan Batu dapat kita saksikan dari sini.

Ajibbb pokoknya!

Tiket masuknya sendiri hanya Rp 10.000/orang dimana Untuk masuk ke daerah wisata Gunung Banyak dikenakan tiket masuk Rp 5000/orang, dan untuk masuk ke omah kayu juga kita cukup membayar lagi harga tiket masuk yang sama.

Berikut penampakan omah kayu tersebut.

Keren kan!

Berdiri atau duduk di atas teras omah kayu benar-benar menantang adrenalin. Jangankan mau berpose narsis. Tak semua orang berani duduk di sudutnya. Bagi mereka yang parno akan ketinggian, dijamin untuk bergerak melangkah aja pasti udah gemetaran ๐Ÿ˜€

Namun semua ketakutan itu worth it banget dengan view emejing di depannya.

Oiya, untuk penginapannya sendiri tarifnya 350rb per malam ketika weekdays, dan 450rb per malam ketika weekend/hari libur. Ga mahal-mahal amat untuk sebuah “kemewahan sederhana” ๐Ÿ™‚

Selain penginapan tadi, tak jauh dari Omah Kayu ini ada Spot Paralayang. Ini buat kamu-kamu yang bermental baja dan pastinya tidak takut akan ketinggian yah. Kemarin sih sempat nanya, untuk sekali terbang harganya 350 ribu Rupiah dan itu termasuk murah karena kalau lagi akhir pekan bisa mencapai 500 ribu Rupiah.

*spot paralayang – view kota batu dari gunung banyak*

Pokoknya kalau kalian lagi berlibur di Batu, menurut saya Omah Kayu ini wajib dikunjungi. Wajib! ๐Ÿ˜€

Seperti yang tertulis pada plank di pintu masuk.

“OMAH KAYU, not just tree house”

berburu sunrise di bromo

Sebagai orang yang suka jalan-jalan, saya mempunyai satu wishlist traveling alias daftar tujuan wisata yang berisi destinasi-destinasi yang akan menjadi prioritas jalan-jalan saya.

Dan wishlist traveling ini ngga muluk-muluk, karena isinya “cuma” destinasi wisata di dalam negeri. Indonesia dan keindahan alamnya membuat saya bercita-cita keliling Indonesia ๐Ÿ˜€

Nah, kalau tahun kemarin, salah satu wishlist traveling saya terpenuhi ketika akhirnya saya mendaki rinjani, maka tahun ini satu lagi destinasi dari wishlist traveling itu bisa saya coret “checked” ketika akhirnya saya ke Bromo.

Jadi, awal bulan april kemarin saya berkesempatan ke Bromo dan asoy-nya lagi itu dibiayain kantor.

Jalan-jalan “berkedok” dinas emang paling juara kan? Ada temen yang menyebutnya ABIDIN alias Atas BIaya DINas :))

***

Dengan rombongan gathering yang jumlahnya 3 bis, kami bertolak ke Surabaya Kamis malam. Dari Bandara Juanda EO Travel yang kami gunakan mengajak kami menyempatkan tour kilat ke Jembatan Suramadu yang terkenal itu. Setelah itu rombongan makan malam di Surabaya lalu langsung ke Pasuruan.

Sekitar jam 2an bis merapat di sebuah peristirahatan dimana kami harus berpindah kendaraan.

Sambil menunggu jeep siap, kami bersiap dengan peralatan anti cuaca dingin. Saya sendiri sudah menyiapkan jaket cukup tebal anti angin dan cuaca dingin, sarung tangan, kupluk dan masker. Pokoknya ngga kalah sama waktu nanjak ke Rinjani. Siap tempur! ๐Ÿ˜€

Setelah semua siap, kamipun berangkat untuk berburu sunrise. Dan tujuan kami adalah ke Bukit “Kingkong”. Fyi, satu jeep menampung 5 orang penumpang + 1 driver. Kata pak supir itu adalah jumlah maksimal yang dapat dibawa dalam satu jeep.

Sekitar satu jam melewati tanjakan dan kelokan-kelokan tajam di tengger, akhirnya sekitar jam setengah 5 kami tiba di Bukit “Kingkong”. Rupanya karena long weekend, pengunjung sangat berjubel luar biasa. Lokasi Bukit “Kingkong” ini adalah salah satu spot keren untuk menikmati sunrise, demikian info dari pak edi driver kami. Spot lain yang tak kalah keren untuk menanti sunrise diantaranya adalah Bukit Penanjakan1, Bukit Cinta. Kedua bukit sisanya ini baru saya kunjungi beberapa hari kemudian ketika mengikuti trip ke bromo (lagi) bersama istri. Yeap, dalam selisih 3 hari, saya mengunjungi bromo 2x ๐Ÿ˜€

Sambil menikmati camilan yang kami bawa, samar-samar sang surya yang dinantikan muncul di ufuk timur. Semua pengunjung sudah siap dengan mata lensa (kamera dan hape).

Amazing!
Lanjutkan membaca “berburu sunrise di bromo”

Asiknya Tektokan

Apa sih yang ada di benak kalian ketika mendengar atau membaca kata tektok

Bolak-balik? Mondar-mandir? ๐Ÿ˜€

Buat saya sendiri, Selain 2 kata tadi yang langsung muncul di benak saya, tektok juga bisa di-makna-kan selaras/sebanding.

Sering kan kita mendengar istilah lawakannya tektok nih. Mungkin lebih pas lagi diartikan dapat mengimbangi.

Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah berita di laman elektronik bahwa kata tektok ini digunakan oleh perusahan komunikasi nasional yaitu Indosat.

Yeap, Indosat menggunakan istilah ini untuk sebuah produk baru mereka yaitu TekTok Mobile.

Trus kerennya TekTok Mobile ini apa depz?

TekTok Mobile diklaim sebagai Lanjutkan membaca “Asiknya Tektokan”