Perjalanan 1000 kilometer Menyusuri “The Majestic Banyuwangi”

 

img_20180611_064534
Ijen Crater – (pic: idep)

 

 

 

Traveling adalah salah satu cara saya untuk menikmati hidup dan mensyukurinya.

Mengapa? Karena dengan traveling, ada begitu banyak hal yang saya dapatkan. Di antaranya adalah kepuasan batin, menambah pengalaman dan mendekatkan diri kepada alam juga sang Pencipta.

Oleh sebab itu, saya dan istri memiliki resolusi yaitu setiap tahun mengunjungi setidaknya satu tempat yang belum pernah kami datangi. Dan pada akhir 2017 kemarin, saya memutuskan bahwa Banyuwangi akan menjadi salah satu target destinasi kami.

Kenapa Banyuwangi? Alasan pertama, tentunya karena kami berdua sama sekali belum pernah berpetualang ke Banyuwangi. Dan alasan kedua adalah Banyuwangi masuk ke dalam daftar “10 Destinasi Branding” wonderful Indonesia yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia. Jadi, rasa penasarannya dobel… Haha…

 

***

Karena rasa penasaran itulah akhirnya kami memutuskan untuk mengeksplor pariwisata yang ada di Banyuwangi beberapa waktu yang lalu.

Seperti biasa, walau memiliki target lokasi yang akan dikunjungi, saya hampir tidak pernah menyusun itinerary sebelum bepergian. Oleh sebab itu ketika memutuskan akan ke Banyuwangi, target utama kami sementara hanya mengunjungi kawah Ijen. Sisanya? Nanti saja lihat setelah di sana. Haha…

Yah memang beginilah cara kami ketika berpetualang. Menikmati sensasi dan kejutan serta improvisasi ketika jalan-jalan menghadirkan keasyikan tersendiri.

***

Oh iya, untuk perjalanan liburan kali ini kami berdua akan menggunakan roda dua. Touring! Dan ini bakal jadi touring terjauh kami.

Perjalanan dari Lombok hingga Banyuwangi kami tempuh dalam waktu kurang lebih 16jam. Rutenya adalah Mataram – pelabuhan lembar – pelabuhan Padangbai – Tabanan – Pelabuhan Gilimanuk – Pelabuhan Ketapang – Ijen.

Menyebrangi 2 selat yakni Selat Bali dan Selat Lombok dan menempuh jarak kurang lebih 310 km dari Mataram sampai ke Ijen, Banyuwangi. Perjalanan yang panjang dan melelahkan.

Sore setibanya di Ijen kami langsung menyewa penginapan di daerah Licin, kampung terakhir sebelum kawasan wisata Ijen. Setelah beristirahat melepaskan keletihan dan kantuk, tepat tengah malam kami berangkat menuju Paltuding. Starting point untuk pendakian ke Gunung Ijen.

Ternyataaaaaa bener kata pepatah.. “no pain… No gain”

Untuk mendapatkan hasil yang indah, dibutuhkan perjuangan yang luar biasa pula.

 

Ketika start dari penginapan ke Paltuding, kami harus melewati jalan berliku tajam, menanjak, gelap gulita dan bonus hujan lebat. Cukup memacu adrenalin di tengah malam buta. Untungnya ketika tiba di Paltuding, hujan berhenti. Segera kami mendaftar di bagian registrasi, bayar lalu mempersiapkan alat (jaket, masker, senter, dll) dan logistik (snack, air minum) yang harus dibawa.

Pendakiannya sendiri lumayan menguras tenaga. Dalam cuaca yang dingin, ditambah jalan menanjak dengan tanah yang cukup licin menambah tingkat kesulitannya.

Bersama ratusan pendaki lainnya dan juga para penambang belerang lokal yang lalu lalang, akhirnya kami tiba di puncak Ijen sekitar pukul 3 pagi.

Langit begitu clear dengan taburan jutaan bintang di angkasa begitu indah… Bintang-bintang itu rasanya begitu dekat, seolah-olah persis berada di atas kepala kita. Tak putus kami mengucapkan “how great is our God”.

Setelah sejenak beristirahat, kami turun menuju kawah untuk menyaksikan fenomena alam “blue fire” yang legendaris itu dengan mata kepala sendiri secara langsung.

ijen 2
sunrise chasers – (pic: idep)
ijen
Ijen Crater – (pic: idep)

How lucky we are!!

Lidah api kebiruan menari-nari begitu indahnya. Oh iya, buat yang belum tau, fenomena alam “Blue fire” ini hanya dapat disaksikan di dua tempat di bumi. Di Ijen dan di Islandia.

Setelah puas menikmati “Blue fire”, kami kembali ke puncak untuk menanti “sunrise” muncul. Selain momen si api biru, momen matahari timbul di ufuk timur adalah yang paling ditunggu di Ijen.

Perlahan sang surya mulai muncul perlahan di ufuk Timur… Indah sekali!

Teringat akan slogan pariwisata Banyuwangi yang dulu yakni “Sunrise of Java”.

Catatan buat kalian yang ingin ke Ijen untuk pertama kalinya:

  1. Waktu terbaik untuk berkunjung ke Gunung Ijen adalah di musim kemarau pada bulan Juli sampai September.
  2. Untuk kalian yang tidak kuat “hiking” dapat memanfaatkan penyewaan “ojek trolley” yang akan mengantar kalian naik turun puncak Ijen.

 

***

Puas menikmati Ijen, kami memutuskan untuk kembali beristirahat di penginapan dan siangnya kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Pulau Merah. Berkendara kurang lebih 3 jam dengan kecepatan rata-rata 60-80km/jam, kami tiba di Pantai Pulau Merah.

Setelah suasana gunung yang sejuk, pilihan terbaik selanjutnya tentu saja pantai yang hangat, bukan?

5.jpg
Pantai Pulau Merah – (pic: idep)

 

Pantai Pulau Merah ini sungguh rapih. Itulah kesan pertama yang muncul ketika kami sampai. Buat kami yang “kenyang akan pantai-pantai” di Lombok, Penginapan yang berjajar di dekat lokasi pantai, warung makan yang ditata, penjaga pantai yang aktif benar-benar membuat kami tak menyesal jauh-jauh ke pantai ini. Segera kami memarkir motor lalu menggelar kain pantai untuk leyeh-leyeh menanti sunset yang akan segera datang.

Senja terbenam, pantai nan indah, suara debur ombak, secangkir kopi instan plus cemilan di tangan, dan pelukan sang terkasih.

pantai pulau merah
waiting for sunset – (pic: idep)

Perfetto!!!

9.jpg
maafkan kenarsisan kami 😛

***

Kamipun menginap semalam di sebuah homestay yang bersih, fasilitas komplit (AC, WiFi, kamar mandi dalam) seharga 250rb/malamnya.

Keesokan harinya setelah browsing sana-sini kami memutuskan akan mengunjungi satu tempat yang lagi hits di Instagram. Namanya “De Djawatan”. Pantai Pulau Merah ke Depan Djawatan ini berjarak tempuh +-2,5jam.

de jawatan
De Djawatan – (pic: idep)
de jawatan #2
The views – (pic: idep)

De Djawatan sendiri dulunya adalah tempat pengelolaan kereta api, namun kini menjadi sebuah destinasi yang sedang naik daun karena lokasinya yang Instagram-able. Kumpulan pepohonan trembesi yang berusia puluhan tahun ini berada di Benculuk, Kecamatan Cluring, Banyuwangi. Sekilas mirip hutan Fangorn yang ada di dalam Film The Lord of The Rings. Pengelolanya cukup kreatif menata lokasi ini, dengan menambahkan fasilitas seperti tempat duduk, rumah pohon, penyewaan ATV, delman dll. Dengan harga tiket masuk per-orang yang hanya Rp 2000 sungguhlah membuat De Djawatan wajib kalian kunjungi ketika ke Banyuwangi.

Sambil menikmati rimbun dan kerennya De Djawatan, saya kembali browsing untuk mencari destinasi terdekat yang pantas untuk didatangi. Akhirnya terpilihlah “Pantai Plengkung” menjadi tujuan berikutnya.

Tak menunggu lama, saya memacu motor menuju Pantai Plengkung yang berada di Kawasan Hutan Alas Purwo. Pantai yang juga terkenal dengan nama G-Land ini konon adalah pantai favoritnya para surfers dunia. Itulah salah satu sebabnya saya menjadi penasaran akan pantai ini.

Sayangnya, ketika kami tiba di Plengkung, hari sudah terlalu sore sehingga kami hanya sempat menikmati suasana sunset tak lebih dari 15 menit. But thats okay, at least Plengkung Beach is finally checked in my list.

plengkung
Plengkung Beach – (pic: idep)

Suasana semakin gelap, kami memutuskan beranjak menuju Ketapang untuk menginap semalam sebelum kembali pulang. Hampir 3 jam kami tempuh hingga tiba kembali di Ketapang dan penginapan kelas melati menjadi tujuan kami. Maklum, travelers pas-pasan. Haha.

***

Keesokan harinya sekitar jam 9 kami berkemas dan menuju pelabuhan Ketapang yang berada tak jauh dari penginapan.

Sebelum masuk ke area pelabuhan, kami menyempatkan diri untuk sarapan di sebuah warung makan. Iseng menanti pesanan datang saya pun berselancar ria di internet. Googling tentang taman nasional Baluran.

Entah kenapa hati kecil saya seperti berbicara “mumpung di sini dep, kapan lagi ke Baluran” dan saya pun mengangguk lalu menyampaikan kepada istri.

Let’s go ke Baluran” ujar saya

Lhooo… Gak jadi nyebrang nih?” balas istri

Ini dr google sih ga sampe sejam” kata saya lagi sambil menunjukkan foto-foto Taman Nasional yang ada di gawai saya

Okay….kuy” Istri saya setuju

Kelar makan saya dan istri lanjut ke Baluran… Batal nyebrang ke Bali. Haha…

Yang namanya nge-trip memang selalu ada faktor kejutan dan di sanalah seninya. Kejutan tak berhenti di sana karena nyasar. Yeap, kami sempat nyasar ketika menuju pintu gerbang Taman Nasional Baluran.

img_20180613_135307img_20180613_142734

Akibat dari terlalu asyik menikmati pemandangan di kanan dan kiri, kami melewatkan plank gerbang pintu masuk. Fatal, karena seharusnya dari Ketapang kami cukup menempuh jarak 20km-an saja. Tapi kami melenceng hingga km 50. Haha… Akhirnya putar balik dan setelah memanfaatkan GPS (gunakan penduduk sekitar) kami menemukan pintu masuknya.

Setelah registrasi dan sedikit berbincang-bincang mengenai Taman nasional dan fasilitasnya dengan petugas, kami pun masuk Taman Nasional Baluran.

Jadi, Taman Nasional Baluran ini adalah “Afrika-nya Indonesia” prenssss….

Jarak dari gerbang masuk sampai ke Savana Bekol +-10km. Sepanjang jalan kami berdoa agar motor kami cukup kuat, karena mayoritas jalan yang dilalui adalah jalan berbatu tajam. Kekhawatiran kami “mudah-mudahan gak pake acara ban bocor” karena akan jadi musibah mengingat di sepanjang jalan hanya ada rerumputan, pepohonan, hewan.

baluran
Savana Bekol – (pic: idep)
baluran 3
sunset at savana bekol – (pic: idep)

Setelah berkendara sangat pelan nyaris 45menit, sebuah padang savana luas dengan banyak kerbau dan monyet di tengahnya menyambut kami. Namanya Savana Bekol.

Sesekali kami berhenti menepi untuk berfoto sambil mengamati sekeliling, lalu kami pun menuju Pantai Bama yang berjarak kurang lebih 3km dari Savana Bekol. Savana Bama berada di tengahnya antara Savana Bekol dan Pantai Bama. Beberapa kawanan monyet, burung, rusa dan kerbau nampak di Savana Bama.

Taman Nasional Baluran memiliki dua spot yang biasanya didatangi pengunjung, yaitu Savana Bekol dan Pantai Bama. Keduanya memiliki fasilitas penginapan bagi pengunjung yang ingin menginap. Setibanya di Pantai Bama, kami langsung ke pantai. Air laut sedang surut sore itu. Namun tidak mengurangi keindahan pantainya. Tak jauh dari pantai ada dermaga mangrove dengan jembatan yang dikelilingi bakau begitu cantik.

Sore itu pengunjung tidak banyak, selain kami berdua tak kurang 10 pengunjung yang ada. Asyik banget pokoknya! Selain penginapan, fasilitas yang diberikan di Bama ini sangat oke menurut saya. Toiletnya bersih dan rapih, mushollanya juga. Juga terdapat kantin di sudutnya. Pas banget buat kami mengisi perut sambil mengadopsi sejenak.

Sembari menyantap late lunch (or early dinner?), kami ngobrol banyak dengan si ibu penjaga. Saat itulah kami putuskan kalau kami akan menginap semalam lagi di Savana Bekol. Sepertinya kami cukup tergoda akan sensasi menginap di tengah-tengah alam liar.

img_20180613_164533
Pantai Bama

Ditengah jalan kembali menuju ke Savana Bekol, kami sempat menikmati sunset yang begitu menawan.

Suasana semakin remang kami menuju penjaga penginapan untuk menyewa kamar. Ada beberapa pilihan penginapan sederhana. Please, jangan bayangkan penginapan bintang 5 dengan segala fasilitasnya. Harga kamarnya per malam hanya 150-300rb. Tentunya kami memilih kamar termurah Donk. Hihihi…

img_20180614_092404
penginapan murah meriah di savana bekol – (pic: idep)

Dari Pak Anies, sang penjaga, kami mendapat info listrik di penginapan hanya akan menyala sampai jam 10 malam. Setelah itu generator akan dimatikan kecuali di pos jaga.

Wah! Udah kebayang serunya!

Benar saja, sepanjang malam yang terdengar hanya suara angin, burung, monyet-monyet yang bermain lepas di sekitar Savana. Hape tak berfungsi maksimal karena sinyal internet yang “gagap”. Tapi tak mengapa, karena kami memang pure ingin menikmati keheningan dan alam tanpa distraksi teknologi.

Sebuah sensasi yang huwow…

Pengalaman pertama yang mungkin belum tentu akan terulang lagi. Bayangan saya malam itu adalah “oh begini rasanya hidup di padang savana di Afrika sana”. Haha…

Ketika pagi datang, kami bergegas ke luar menyaksikan kerbau-kerbau datang ke Savana Bekol untuk mandi dan minum di kubangan kolam. Duduk di pinggiran Savana sambil menikmati hewan-hewan di kejauhan.

Dari hasil obrolan dengan Pak Anies semalam, kami mendapat info bahwa sebenarnya ada banyak spesies yang ada di Taman Nasional Baluran ini. Selain yang sempat kami lihat dengan mata sendiri seperti monyet, kupu-kupu, Banteng, kerbau liar, Ajag, Kijang, Rusa ada juga Macan tutul, kancil, kucing bakau. Total 26 jenis mamalia dan 155 jenis burung.

Amazing!!

Sama sekali tak berlebihan kalau Taman Nasional Baluran ini disebut “Afrika-nya Indonesia”.

Bagi para pengunjung yang ingin melihat lebih banyak spesies yang ada, dapat menyewa rangers untuk diantarkan ke spot-spot spesies tersebut.

Terus nih, berkat kami yang kepo dan banyak tanya ke Pak Anies yang bersahabat itu, kami juga dapat satu referensi wisata sebelum pulang, namanya Waduk Bajul mati yang berjarak tak jauh dari gerbang pintu masuk Taman Nasional Baluran.

Ya udah dong, karena katanya lokasinya ga jauh jadi keluar Baluran kami langsung melipir ke Waduk Bajul mati.  Kira-kira 10 menit kemudian kami sampai.

Waduk Bajulmati adalah sebuah waduk yang terletak di perbatasan wilayah Kabupaten Banyuwangi dengan Kabupaten Situbondo , Provinsi Jawa Timur , Indonesia . Waduk Bajulmati yang terletak diantara Gunung Baluran dengan Pegunungan Ijen ini dibentuk dengan membendung Sungai Bajulmati sebagai sumber air utamanya dengan luas hampir 100 km persegi dan dapat menampung air dengan kapasitas maksimal 10 juta meter kubik. Istimewanya Waduk Bajul Mati adalah gundukan-gundukan tanah menyerupai pulau kecil di tengah waduk dan panoramanya yang indah menjadikan waduk ini sangat “Instagram-able“.

waduk bajul mati
waduk bajul mati – (pic: idep)
IMG_20180614_130246.jpg
another view of bajul mati – (pic: idep)

Waduk Bajul mati dapat menjadi opsi wisata tambahan ketika mengunjungi Taman Nasional Baluran.

Beneran gak nyesel deh kemarin memutuskan gak jadi nyebrang pulang. Karena bisa dapat 2 objek bonus di liburan kali ini

***

Time to go home

Kelar menikmati Bajul mati kamipun langsung bergegas menuju Pelabuhan Ketapang untuk pulang kembali ke Lombok.

Sesampainya di rumah dan saya menghitung jarak tempuh yang kami jalani selama explore Banyuwangi kemarin. Ternyata mencapai 1000kilometer. Gokil euy!

***

Terus terang walau sejak lama bermimpi untuk jalan-jalan ke Banyuwangi, saya tidak pernah membayangkan bahwa Banyuwangi memiliki begitu banyak objek wisata yang keren-keren buangettt.. dan menurut saya sih objek-objek wisatanya teroganisir dengan baik.

Tidak heran sampai masuk ke 10 destinasi branding wonderful Indonesia.

Seperti taglinenya kini, Banyuwangi memang “majestic”.

 

 

 

 

 

 

 

 

Kisah pelari gendut ikutan Rinjani 100

Sesekali, lakukanlah hal gila dalam hidupmu. Rasanya menyenangkan dan membuat hidup terasa lebih hidup.

Saya ingat saya pernah membaca sebuah kalimat kurang lebih seperti kutipan di atas.

Dan tempo hari saya baru saja melakukan salah satu hal tergila dalam hidup saya. Setidaknya menurut saya sendiri sih.

*****

Seperti yang sering saya ceritakan di blog ini, bahwa 2 tahun terakhir ini saya cukup intens berolahraga lari. Salah satu efek dari bergabungnya saya dengan sebuah komunitas lari Lombok Based RunnersRunJani“.

Pengalaman demi pengalaman saya dapatkan ketika semakin mengenal dunia lari. Mulai dari nambah kawan begitu banyaknya, mengikuti event lari pertama di Lombok Marathon 2016, join Virtual Run en ColorRun, sampai pecah Half Marathon pertama di Karang Asem Run dan masih banyak lagi.

Seperti halnya belajar, semakin mendalami dunia lari, semakin rasanya nggak tau apa-apa soal lari. Contohnya, selama ini nggak tau pentingnya pemanasan sebelum berlari dan pendinginan sesudah berlari. Atau baru tau kalo ada lari yang levelnya ekstrim. Namanya Ultra atau Trail. Kalau ultra ini lari dengan jarak tempuh di atas 42,195km (Full Marathon), sementara trail run adalah berlari tidak pada lintasan road alias larinya ke hutan, gunung, bukit.

Nah, kegilaan yang saya maksud di atas itu ada hubungannya dengan lari-larian.

Kegilaan itu adalah berlari di Gunung Rinjani. Kalau orang “normal” ke Rinjani itu mendaki, berkemah, santai-santai mancing di Segara Anak, mandi air panas di Aiq Kalaq, kalau saya malah lari-larian di Rinjani. Lari paling jauh aja cuma 23k di road, lah ini mau nyoba 27k dan nanjak gunung!

Di postingan ini saya akan cerita pengalaman pertama ikutan event trail run.

Nama event-nya Rinjani 100.

Rinjani 100

*****

Rinjani 100 pertama kali diadakan pada tahun 2016 dengan 4 kategori jarak yaitu 27k, 36k, 60k dan 100k. Event ini sebelumnya bernama MRU (Mount Rinjani Ultra) 52k dan RAR (Rinjani Altitude Run) 22k.

Pada penyelenggaraan tahun ini panitia kembali menghelat 4 nomor kategori persis seperti 3 tahun sebelumnya.

Rinjani 100

*Daftar kategori, jarak dan elevasi*

Trus, pelari gendut daftar yg kategori berapa dep?

Ya tentunya yang paling pendek jaraknya lahhhhh… . 27k. Haha!

Saya sadar diri banget kok untuk ngga sok-sokan daftar kategori yang saya sendiri ngga ngerasa mampu mencapainya.

Motivasi awal ikutan Rinjani100 kelas 27k nggak muluk-muluk sih. Bukan ngejar target waktu atau medali, tapi hanya untuk mengukur kemampuan diri sendiri sambil piknik elevasi #tsahh…

Malahan supaya tidak mematok target tinggi yang akhirnya bisa menjadi beban untuk diri saya sendiri, saya bilang ke istri “anggap aja beli Jersey race-nya”. Kebetulan waktu daftar, saya daftarnya offline via komunitas, jadi harganya sangat murah. Gak beda jauh sama beli Jersey lari. Berbeda ketika mendaftar online, harganya sangat mahal untuk ukuran saya yang pelari ber-bujet. Haha!

*Daftar harga registrasi*

*****

Persiapan menuju Race

Untuk persiapan menuju Rinjani 100 bisa dibilang latihan saya nggak cukup bagus dan memadai. Nggak pernah latihan nge-trail, nggak pernah latihan repeat-hill, nggak pernah latihan tempo dan interval. Latihan yang saya lakukan hanyalah sebatas short run ( di bawah 10k), beberapa kali long run (10-18k) pokoknya total 100k/bulan, juga latihan core yang cuma 2 Minggu sekali.

*Training History*

Please, buat kalian yg pemula kayak saya, hal ini sangat tidak baik untuk ditiru. *Tutup muka*

*****

Race time.

Beberapa hari menjelang race, adrenalin mulai terasa walau tidak se-deg-degan ketika race HM di Lombok Marathon dan KarangAsemRun. Kembali lagi mungkin karena saya tidak mematok target harus finish under COT (cut-off-time).

Oh iya, fyi, untuk kategori 27K COT-nya adalah 9 jam. Artinya setiap peserta harus finish sebelum 9 jam untuk mendapatkan medali finisher.

Sejujurnya ada beberapa alasan kenapa saya tidak mematok target finish under COT selain persiapan yang tidak maksimal. Alasan lainnya adalah saya kan belum pernah ikutan trail run baik resmi maupun latihan. Dan alasan kedua adalah pengalaman 2x mendaki Rinjani dimana kali pertama saat mendaki dulu waktu yang saya butuhkan untuk mencapai pelawangan Sembalun +- 13jam dan kali kedua waktu yang saya tempuh untuk mencapai pelawangan Sembalun +- 11jam. Dan keduanya itu one way. Bukan tek-tok. Sementara kali ini saya harus tek-tok dari kantor Taman Nasional Gunung Rinjani ke Pelawangan Sembalun dalam waktu 9jam atau kurang. 😁

What. A. Big. Challenge.

Ada beberapa kendala kecil yang juga saya hadapi sebelum hari race. Salah satunya adalah soal sepatu khusus trail yang baru saya miliki (uhuks! 😂), sama sekali belum pernah dicoba lari pada lintasan off-road. Dua kali percobaan berlari menggunakan sepatu trail ini hanya di road kurang dari 7k. Untuk yang belum tau perbedaan sepatu road dan sepatu trail, perbedaan signifikan adalah pada bagian sol sepatu dimana sepatu trail memiliki grip/outsole/tapak bawah lebih bergerigi. Analoginya adalah ban pada sepeda motor trail yang berbeda dengan ban motor konvensional yang lebih soft n mulus. Sol bergerigi ini digunakan agar ketika menghadapi track berbatu/tanah yang tidak rata, pelari tidak mudah terpeleset.

Selain sepatu, di hari h-1 saya sempat mengalami diare. Bener-bener bikin lemes en panik! Untungnya sampai Jumat siang, diarenya berhenti dan kondisi badan mulai enak. Alhamdulillah!

*****

Hari H.

Jumat siang saya berangkat ke Sembalun bersama kawan-kawan Runjani dan tiba di Sembalun sekitar jam 5 sore. Langsung menuju Race central di hotel Nusantara yang menjadi lokasi pengambilan racepack juga lokasi start/finish untuk kategori 27k dan 36k.

Total ada 1163 peserta dari 39 negara mengikuti event Rinjani 100. Oh iya, Rinjani 100 sendiri adalah sebuah event trail running yang termasuk pada elite grand Slam ultra Indonesia. Selain Rinjani 💯, ada 4 event lainnya yang termasuk elite grand Slam ultra Indonesia. Yakni, Mesastila peaks challenge, Bromo Tengger Semeru 100 Ultra dan Gede Pangrango 100. Pemenang dari seri-seri tersebut memiliki kesempatan untuk berkompetisi pada hajatan Event Trail paling bergengsi di dunia yakni UTMB di prancis.

Rasanya bangga juga bisa ikutan event keren yang bergengsi ini. Oh iya, konon kata seorang teman, Rinjani 100 ini adalah event trail paling keren se-Asia. 😁.. makin bangga deh!

Racepack kali ini hanya berisi BIB (nomor dada peserta) dan kaos peserta. Btw, kaos pesertanya keren. Bahannya asyik dan desainnya keceh! Oh iya, selain itu setiap peserta mendapatkan gelang yang juga berfungsi sebagai “chip” yang akan digunakan untuk “sensor” atau penanda ketika tiba pada titik-titik check point.

With costume n BIB

Bracelet chip

Course Map for 27k

Sepulang berfoto dan bercengkrama dengan kawan-kawan komunitas RunJani, kami beranjak ke penginapan yang sudah kami pesan jauh-jauh hari. Kemudian menyiapkan semua keperluan untuk race besok.

Kawan-kawan peserta kategori 100k dan 60k sudah merapat ke garis start di Senaru sejak pukul 10. Start kategori 100 dan 60 adalah Jumat malam pada pukul 23.30 Wita. Sementara peserta 36 memulai lomba pada jam yang sama dengan titik start race central hotel Nusantara di Sembalun.

Di Penginapan yang tersisa hanya kami peserta 27k dan tim support yang juga kawan-kawan komunitas RunJani.

*****

Setelah tidur yang sangat tidak berkualitas, (saya hanya tidur lebih dari 4 jam dan tidak bisa dibilang nyenyak sekali), alarm hp membangunkan saya pukul 3.30 pagi.

Cuci muka, sikat gigi dan berganti kostum. Cuaca Sembalun yang sungguh dingin membuat malas untuk mandi. Jangankan mandi, nyentuh air dengan jari saja sudah membuat menggigil. Haha!

Check gear dulu. Hydropack, tracking pole, Counterpain, Suplemen, minuman, Snack, buff, sarung tangan, kaca mata, semua sudah siap. Sip!

Waktunya sarapan. 😁

Karena ini adalah lomba yang akan sangat menguras tenaga, sarapan dengan makanan berat sangat penting buat saya pribadi, walau bagi beberapa kawan, saya tidak melihat mereka mengisi perutnya dengan makanan berat. Untuk menu sarapan saya sudah mempersiapkan nasi dan ayam goreng buatan kolonel Sanders itu.. eits ini bukan endorse apalagi iklan. 😅

Selepas sarapan, saya memaksa untuk pup agar perut kondusif sepanjang race. Kan ga asyik lagi lari-larian malah sibuk cari tempat buat “nongkrong” 😁. Setelah perut aman, sekitar pukul 4.15 kami berjalan menuju Race central yang tak jauh dari penginapan. Lumayan, hitung-hitung pemanasan.

Sampai di race central, peserta 27k sudah ramai. Walau suhu semakin terasa dingin, namun Adrenalin mulai terasa meninggi. Nervous dan excited bercampur jadi satu.

Ready for start

Sebelum pemanasan, lagi-lagi saya mampir ke toilet, demi memastikan isi perut tidak “kepenuhan”. Ritualnya sang pelari gendut. 🙈

Setelah pemanasan, check in dengan menunjukkan gelang chip kepada panitia. Hal ini wajib dilakukan agar peserta dipastikan memulai lomba dari titik start.

Tepat jam 5.00 lomba dimulai, bendera start diangkat oleh Kang Hendra Wijaya sebagai event owner Rinjani 💯 dan sekitar 110an peserta kategori 27k melintasi garis start.

*****

The Run

Strategi saya sama seperti di lomba-lomba sebelumnya, yaitu ketika start saya tak ingin ngotot. Alasannya badan belum terlalu “panas” dan saya harus pintar-pintar mengatur ritme. Oleh sebab itu di 7 kilometer awal dari start sampai Padang Savana saya hanya berlari-lari kecil diselingi jalan cepat ketika lintasan agak menanjak. Lagipula berlari di tengah kegelapan (penerangan jalan hanya dibantu headlamp pelari) dengan lintasan tanah berdebu tebal juga berbatu besar dan naik-turun sungguh menyulitkan.

Saya berlari beriringan dengan Miq Gigih. Beberapa grup kecil mulai terbentuk, grup teman-teman RunJani sebagian sudah meninggalkan kami sementara beberapa kawan RunJani juga masih ada tak jauh di belakang.

Memasuki Padang Savana Sembalun, sedikit demi sedikit fajar pagi mulai menyingsing di ufuk timur. Headlamp mulai kami matikan. Sesekali sambil berlari kecil saya menikmati momen sunrise yang begitu cantiknya. God is great and the sunrise was beautiful

Tak tahan dengan godaan indahnya alam sekitar, saya pun mengeluarkan hp dari tas. Saling jepret dengan Gigih dan mengambil swafoto sejenak.

Gunung Rinjani dari Padang savana

Rinjani 100

Berhenti sejenak demi mengagumi keindahan ciptaanNya

Rinjani 💯

Selfie dulu donk

Tak terasa, pukul 6.20 Wita kami sudah berada di check point pertama, di pos 1 pelawangan Sembalun. Kami melapor ke official, scan bracelet sambil minum di WS (waterstation) yang disediakan, lalu kami melanjutkan pelarian.

25 menit kemudian kami mencapai pos 2, pos yang biasanya digunakan pendaki untuk beristirahat bahkan nge-camp. Terdapat banyak tenda-tenda berdiri dan pendaki yang sedang menikmati sarapan.

Kami tak berhenti di pos 2, lanjut ke pos 3 saja. Elevasi mulai tinggi, jalan semakin menanjak dan peluh sudah membasahi baju. Saya dan Gigih bertekad untuk beristirahat di pos 3 saja.

Sekitar 7.20 kami tiba di pos 3.

Wow. Cukup cepat juga rasanya.

Perut saya sudah mulai terasa ingin diisi. Sayapun mengeluarkan roti yang saya bawa. Setengahnya saya habiskan, sisanya saya simpan untuk di perjalanan selanjutnya. 1 butir salt stick (yang konon sebagai pengusir kram) saya minum. Tracking pole, yang sepanjang perjalanan tadi saya sampirkan di tas, saya keluarkan.

10menit kemudian kami melanjutkan perjuangan.

Yeap, perjuangan. Karena lintasan semakin ekstrim. Tanjakan demi tanjakan dengan kemiringan 45-60 derajat siap menyiksa kaki dan pinggang kami. Belum lagi debu yang semakin tebal juga menambah kesulitan setiap peserta yang melaluinya.

Kamipun mulai berpapasan dengan banyak pelari kategori 36, 60 bahkan 100.

*Pic by rungrapher*

Gile juga nih orang-orang, pikir saya. Saya aja belum sampai pelawangan, eh mereka malah udah turun.

Saking beratnya lintasan menuju pelawangan ini, kami semakin sering berhenti. Sekadar untuk ngaso, minum atau saling memberi semangat.

Kali ini strategi yang saya gunakan adalah “lima satu”. Yakni lima kali melangkah, satu kali istirahat. Ditambah mantra “kuat, sehat, tangguh” yang selalu kami rapal untuk menyemangati kaki-kaki kami. Ucapan adalah doa, bukan begitu?

Karena terjalnya bukit-bukit yang harus kami lewati, ditambah kondisi fisik yang mulai melatih, kram pun muncul. Deim!

Saya dan Gigih pun sempat bergantian saling pijit… Haha… What a team.

Setelah entah berapa bukit panjang terlewati, akhirnya nampaklah deretan tenda. Wah! Pelawangan Sembalun sudah di depan mata, coy! Semangat kembali muncul….

Saya pun melirik jam di pergelangan tangan kiri saya. Wah… Masih 09.45. Goks!

*****

Touch down Pelawangan Sembalun!

Rinjani 💯

At pelawangan Sembalun

Pukul 10.00 kami tiba di check point kedua yaitu di Pelawangan Sembalun. 5 jam kami tempuh untuk melewati 13,5k dan elevation gain 1703m.

Puji Tuhan… Alleluia… Sudah setengah jalan.

Sambil berjalan menuju panitia, saya melirik keindahan danau segara anak dari atas. Lagi-lagi saya terkagum-kagum atas ciptaanNya.

Di WS2, Scan barcode, kemudian menikmati refreshment yang disediakan panitia. Minumannya ada Coca cola, pocari, air mineral. Sedangkan makanan ada buah-buahan (semangka, jeruk), roti lapis dan popmie.

Suasana di WS 2 (pelawangan Sembalun)

*Pic by rungrapher*

Saya hanya memakan jeruk, semangka, dan minum Coca cola juga air mineral, tak lupa me-refill stock minuman.

Sungguh senangnya melihat gerombolan kawan RunJani yang sudah duluan tiba. Kami pun saling menyemangati. Saya keluarkan handphone dan saya menelepon istri untuk mengabarkan bahwa saya sudah tiba di setengah perjalanan.

Lumayanlah setelah nelpon istri, makan refreshment, dan nenggak 1 suplemen (Gu-Gel dan salt stick) energi seperti habis dicas kembali. Badan fresh!

Melihat sisa waktu 3.45 menit saya merasakan kalau rasa-rasanya ada sedikit peluang untuk bisa finish sesuai COT. Segera saya melangkah turun meninggalkan Gigih yang masih berkemas-kemas (sorry ya miq, saya tinggal. 😁).

Tinggal turun aja nih!

*****

Downhill.

Buat saya pribadi, downhill jauh lebih menyenangkan daripada uphill. Kecepatan saya lebih maksimal. Dengan agak ngebut saya menuruni bukit-bukit berdebu dan cukup curam itu. Banyak pelari yang terjatuh ketika menyusuri bukit penyesalan.

Saya mulai menargetkan diri saya sendiri. Harus bisa tiba di pos 1 sebelum jam 12. Dengan asumsi 2 jam tersisa cukup untuk jalan santai dari pos 1 sampai garis finish.

11.10 saya tiba di pos 3. Sendirian.

Sial ketika meloncat naik pos 3, kaki kanan saya kram luar biasa. Rasanya sakit sekali. Saya menenangkan diri. Lagi-lagi saya menelan salt stick untuk mengusir kram. Cukup lama saya beristirahat sampai kaki dapat diajak kompromi.

“Kuat, sehat, tangguh”.

“Kuat, sehat, tangguh”.

Demikian teriak kepala kepada kaki.

Dengan speed yang menurun, tidak seperti dari Pelawangan ke pos 3, saya menyemangati diri sendiri untuk tiba di pos 2 dulu.

Ternyata setibanya di pos 2, pendaki semakin ramai. Bahkan jauh lebih ramai dari ketika pagi kami lewati. Lagi-lagi saya hanya melewati tanpa istirahat di pos 2.

Dikit lagi, dep… Dikit lagi pos 1.

Padang Savana *Pic by rungrapher*

Panas terik semakin menyiksa, beriringan dengan kram yang mulai “datang-hilang” bergantian di otot lutut bagian belakang. Belum lagi batu-batu kecil yg nyelip masuk ke dalam sepatu benar-benar membuat jalan nggak nyaman. Sementara mau lepas sepatu takut keram ketika jongkok. Huftttt…

*****

Touch down pos 1.

Pos 1. Check point terakhir sebelum finish.

Yess!! 11.47.

Lebih cepat dari target saya.

Senyum-senyum sendiri sambil meringis karena menahan rasa sakit pada kaki.

Minum Coca cola, pocari dan air mineral kemudian Refill stock air minum.

Saya sempat meminta obat semprot pengusir kram pada panitia tapi ternyata hanya ada salep gosok. Ya sudahlah ya… Dari pada gak ada. Tak lupa juga saya menenggak salt stick terakhir yang saya punya.

*****

The real battle.

Jam 11.55 saya meninggalkan pos 1.

Rasanya saya semakin optimis untuk bisa finish di bawah COT.

Kacamata yang sepanjang perjalanan saya abaikan, kini saya pakai. Panas terik dan silau yang menyiksa mata tak bisa ditolerir lagi.

Ternyata…. Perjalanan dari pos 1 menuju garis finish adalah perjuangan yang paling berat menurut saya. Walau elevasinya tak seekstrim pos1 ke pelawangan atau sebaliknya, tetapi kondisi badan yang semakin “ampas”, panas yang luar biasa, plus kram yang menyerang bertubi-tubi di kaki kanan dan kiri membuat saya bisa bilang “this is the real battle”.

Berperang dengan pikiran. Inilah “melawan malas” yang sesungguhnya.

Bahkan untuk keluar sampai ke gerbang bertuliskan Taman nasional gunung Rinjani” saja rasanya panjangggg dan jauhhhh sekali.

Prediksi awal saya meleset. 1 jam tak cukup untuk jalan cepat dari pos 1 sampai finish. Bahkan jarum pendek di jam tangan saya sudah melewati angka 1 dan saya baru memasuki jalan aspal. Deim!

Kebosanan parah melanda saya! Saya mulai parno. Gimana kalau saya blackout di jalan karena panas dan ngedrop lalu gagal finish? Arghh…. Untuk pertama kalinya saya mulai berpikiran negatif. Gawat! Saya menenangkan diri kembali , mulai menyingkirkan perasaan negatif dan bernyanyi- nyanyi lagu rohani. (Halahhhh deppp… Kalau pas begini aja sok relijius… ) 🙈

Saking bosan dan demi menyingkirkan pikiran buruk, saya memutuskan untuk menelepon istri. Memberi kabar tentang posisi terakhir, berjalan sambil ngobrol ngalor ngidul. Bahkan saya sampai menyuruh istri saya ngomong sendiri dan saya hanya mendengarkan ceritanya membahas apa saja agar saya teralihkan dari rasa bosan. Hahaha…

20 menitan ngobrol sambil berharap sudah berada di tikungan terakhir sebelum finish. Tapi kenyataan tak sesuai harapan. Haha… Kok rasanya ngga abis-abis ini jalan aspal… Edyannnnn!

I feel so frustated but i gotta finish this shit! 😁

keep walking

Akhirnya.. hotel Nusantara nampak di depan. Yes! Yes! Yes!! Tikungan terakhir!! Thanksssssssss.. God…..

Tak terasa, air mata saya menetes. Mungkin begitu terharu setelah melewati perjuangan yang luar biasa ini. 100 meter terakhir saya tak dapat menahan keharuan, di finish line nampak istri saya menyambut dengan sumringah bersama tim support RunJani.

And then i crossed the finish Line…

I Made it!!

*****

8 jam 27 menit!

Official result.

I just Can’t believe it!!!

I got the medal.

The best medal

Rasa senang semakin sempurna ketika melihat Gigih sang partner nanjak juga berhasil finish under COT.

Wooohooo!!

*****

Supaya postingan ini agak berfaedah dikit, izinkan saya untuk berbagi sedikit tips bagi kalian yg juga pemula dan akan mengikuti race trail run. Maafkan kalau si pemula ini lancang/sotoy dan ada yg ngaco tipsnya. Cmiiw, please. 😂🙏

1. Latihan, latihan dan latihan. Gak cuma latihan road, tapi juga trail, repeat hill, interval dan tempo. Jangan kayak saya yang males. 🙈

2. Persiapkan gear dan buatlah check list h-1 barang yang akan dibawa ketika lomba. Pengalaman saya kemarin agak riweuh ketika mau ke titik start buff ngga tau di mana, kelupaan bawa walkman (this is why saya akhirnya nyanyi sendiri instead pake music player), lupa bawa kabel buat power bank, lupa bawa “doping pribadi”.

3. Pelajari Medan yang akan ditempuh, bisa lewat baca-baca referensi di web lomba, postingan peserta tahun lalu, atau nanya ke yang lebih paham. Mencoba rute beberapa kali sebelum race akan memberi keuntungan ketika lomba. Saya bersyukur pernah 2x mendaki jadi cukup ngerti track yang dilalui. Inilah mengapa saya membawa 2 tracking pole yang ternyata sangat-sangat membantu saya ketika menanjak. Gak kebayang kalau saya ngga bawa. Rasanya agak mustahil bisa finish under COT.

4. Istirahat yang cukup sebelum lomba dan jaga makanan. Jangan kayak saya yang makan sembarangan sampai diare di h-1. 😦

5. Asah mental, karena lomba semacam ini lebih menyiksa mental dibandingkan fisik. Ketika fisik drop tetapi mental masih kuat, maka kita akan tetap semangat melangkah. Vice Versa. Begitu sebaliknya. Yang membuat saya masih melangkah ketika kram di kaki kanan dan kiri adalah semangat dan tekad. 😁

6. Atur strategi dengan baik. Jangan “ngegas” di awal tapi malah kedodoran di tengah/akhir.

7. Enjoy the nature and always think positively.

Monggo kalau ada yang mau nambahin, silahkan komen di kolom komentar. 😁

*****

All the glory must be to the Lord, but i have to say thanks for all Semeton Pelai RunJani.

Thank u Soo much.

RunJani is the best.

Rinjani 💯 CADASSSS!!!!!

Hidup adalah kesempatan

Hidup ini adalah kesempatan

Hidup ini untuk melayani Tuhan

Jangan sia-siakan apa yang Tuhan bri Hidup ini harus jadi berkat…

Reff :

Oh Tuhan pakailah hidupku

Selagi aku masih kuat

Bila saatnya nanti Ku tak berdaya lagi

Hidup ini sudah jadi berkat

Barisan kalimat di atas adalah lirik lagu rohani (Kristen) berjudul “Hidup adalah kesempatan” ciptaan Pdt. D Surbakti.

Entah kapan tepatnya pertama kalinya saya mendengar lagu ini, kayaknya sih belum lama banget, tapi seminggu terakhir saya seperti dikasih “kode” sama Tuhan untuk dengerin lagu ini.

Dari di gereja ketika kebaktian menonton vokal grup yang nyanyi lagu ini, terus berlanjut di sosmed beberapa kawan membagikan lirik lagu ini.

Saya jadi mikir, ada apa dengan lagu ini?

Ada apa dengan hidup saya?

Hmmmm~

Jarang-jarang nih saya jadi berkontemplasi begini (Halah! Bahasamuuu deepppp!! 😅 )

Tapi jujur saya jadi mikir (agak) berat, apa hidup saya belum berarti ya? Or Tuhan pengen saya lebih lagi melayani dan lebih menjadi berkat bagi orang-orang?

I guess so….

Kalau dipikir-pikir emang apa sih tujuan kita ada di dunia ini? Masa cuma buat makan, minum, bersenang-senang, belajar, bekerja, cari duit, beranak-pinak?

Menurut saya pribadi sih, kita hidup ini ya tujuannya untuk berguna bagi orang lain. Belajar, bekerja dan semua kegiatan yang kita lakukan selayaknya ya nggak cuma buat kita sendiri. Tapi buat orang lain.

Blessed to be a blessing, kan ya?

Oh iya, saya jadi ingat beberapa Minggu yang lalu nemu sebuah status di tuiter yang cukup menohok saya.

Benar-benar cocok banget sama lirik lagu di atas yaaa…

Oh Tuhan, terima kasih untuk renungan hari ini. Kiranya Kau memampukanku untuk selalu semangat melayani dan menjadi saluran berkat bagi lebih banyak orang.

Amennnnnn 🙏

We Run We Unite, Lombok Marathon 2017

“We Run, We Unite”

Demikianlah tagline yang disematkan pada event lari tahunan bernama Lombok Marathon 2017. Dan event ini sendiri dihelat pada Hari Minggu, Tanggal 28 Januari 2018 yang lalu.

Wait… kok berlangsungnya tahun ini dep? Katanya Lombok Marathon 2017?

Jadi… Sebenarnya event Lombok Marathon (LM) 2017 ini seharusnya dilangsungkan pada Tanggal 03 Desember 2017, tetapi dikarenakan adanya erupsi Gunung Agung (Bali) yang berimbas pada ditutupnya penerbangan dari dan ke Lombok pada seminggu sebelum hari-H maka akhirnya panitia LM memutuskan untuk menunda lomba marathon yang digelar untuk kedua kalinya ini sampai Tanggal 28 Januari 2018.

Untuk kategori lomba yang disediakan oleh panitia terdapat 4 nomor yaitu : 5Km, 10Km, Half Marathon (21,095Km) dan Full Marathon (42,195Km).

Saya sendiri ambil bagian pada nomor Half Marathon (HM). Alasannya ya karena saya ingin upgrade alias naik kelas donk. Seperti yang pernah saya ceritakan di postingan ini kalau di edisi pertama LM 2016 saya hanya ikut nomor 10Km, maka di edisi kali ini saya menjajal nomor HM.

Walau ini race kedua saya mencoba nomor HM, namun tak sedikitpun mengurangi rasa gugup menjelang hari lomba. *sigh* 😀

***

– Hari H-

Dari subuh, para peserta kelas Full Marathon (FM)  dan Half Maraton (HM) sudah memadati venue start. Cuaca agak membuat galau karena sejak malam sebelumnya hujan mewarnai Pulau Lombok hingga saat start akan dimulai.

Start untuk kelas HM dimulai pukul 05.15 Wita bertempat di Jl. Raya Sengigi tepat di depan Hotel Sentosa. Lebih lambat 15 menit dari dimulainya start kelas Full Marathon. Pengibaran bendera start sendiri dilakukan oleh ketua KONI Bapak Andy Hadianto. Puji Tuhan, mendekati dimulainya start, hujan berhenti total. Yess!!

Sebagai pelari hore-hore alias amatiran, mengatur strategi dalam mengikuti long-run seperti ini sangat penting. Strategi saya adalah dengan memulai start dengan jalan cepat setengah berlari sampai 0,5 km awal. Hal ini saya lakukan agar badan tidak “kaget” langsung dipacu meskipun tentunya sudah pemanasan di awal pelarian.

Dengan pace “keong” ala saya (pace 8) sambil mendengarkan lagu-lagu favorit dari mp3 yang tertancap di telinga, saya menikmati udara segar sambil menikmati menyusuri pemandangan pantai senggigi yang mulai terang disinari matahari pagi. Sungguh mengasyikkan.

Suasana sepanjang jalan dari Senggigi ke Kota Mataram semakin ramai oleh para penonton/masyarakat sekitar. Tak sedikit yang memberikan semangat dengan caranya masing-masing. Ada yang menyediakan air mineral, ada sekolah-sekolah yang meramaikan jalan sambil membawa bendera merah putih kecil, ada drum-band dll. Keren!

Setelah hampir 3 jam berlari (plus diselingi banyak jalan tentunya) akhirnya saya pun menginjak garis finish yang berada di depan pendopo rumah dinas Gubernur NTB di Jalan Pejanggik.

Not my PB (personal best), i guess… But still, its a good result to finish the race under 3 hours. 😀

Medali LM di rumah pun jadi semakin bervariasi karena sebelumnya saya sudah punya medali 10K dan tahun ini istri ikut nomor 5k. Tinggal medali FM aja nih. Next year, maybe dep? Haha… lets see…

Beberapa catatan saya mengenai LM2017 kali ini adalah :

  • Promosi yang kurang aktif, semestinya event marathon seperti ini digarap lebih serius dan promosinya bisa lebih gencar jadinya bisa semakin mempopulerkan wisata Lombok
  • Sosialisasi ke masyarakat agak kurang, jadinya di beberapa titik terdapat masyarakat yang sepertinya tidak siap menghadapi “buka-tutup” jalan
  • Panitia kurang terorganisir, khususnya di bagian pembagian racepack dan di titik finish
  • Akan lebih asyik buat runners kalau di titik kumpul finish terdapat banyak refreshment
  • Changing the EO would be a good idea *wink*

Sampai jumpa di LM 2018, kalau masih ada sih. *crossingfingers*

😀

 

 

Wisata prasejarah di Gunung Padang

Rasanya saya sudah sering berbagi cerita perjalanan wisata saya ke gunung, pantai, atau pun ke pulau.

Nah, kali ini saya ingin bercerita pengalaman saya ketika menikmati wisata prasejarah di Gunung Padang.

Eits… walau namanya Gunung Padang, lokasi wisata ini sama sekali tak ada hubungannya dengan ibukota provinsi Sumatera Barat yaitu Padang. Gunung Padang yang saya maksud ini adalah sebuah lokasi situs megalitikum di Cianjur, Jawa Barat.

Situs Gunung Padang berada di perbatasan Dusun Gunung Padang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Berada di ketinggian 885 mdpl (meter di atas permukaan laut), Situs ini adalah sebuah kompleks kebudayaan Megalitikum yang sangat luas.

Ada dua alasan mengapa saya akhirnya mengunjungi lokasi ini. Pertama, rasanya saya belum pernah melakukan wisata prasejarah selain mengunjungi candi-candi. Kedua, ketika saya melakukan perjalanan dari Kota Sukabumi ke Bandung di mana saya melintasi Cianjur saya selalu melihat plank penunjuk lokasi Gunung Padang ini, dan sungguh membuat saya penasaran.

Rasa penasaran saya terobati di akhir tahun kemarin, ketika saya dan istri berlibur ke Sukabumi, saya memutuskan untuk mendatangi Gunung Padang.

Dengan mengendarai kendaraan roda dua, saya dan istri menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam dari pusat kota Sukabumi untuk sampai ke TKP. Lumayan membuat pantat tepos tapi syukurnya seperti lazimnya cuaca di sekitaran puncak, hawa sejuk sepanjang perjalanan plus pemandangan pegunungan dan kebun teh nan hijau sungguh membuat perjalanan menjadi mengasyikkan dan tidak terasa lama.

PANO_20171226_161615

Akses jalan 80% cukup baik dengan aspal dan jalan beton, sedangkan sisanya masih dalam progress pembenahan (pengaspalan/pembetonan).

Sesampai di TKP kami memarkir kendaraan dan membeli tiket masuk seharga Rp 5000/orang. Dari gerbang masuk, pengunjung memiliki 2 opsi untuk sampai ke atas. Opsi pertama adalah menaiki ratusan tangga (lupa ngitung banyaknya 😛 ) dengan sudut yang cukup curam. Sedangkan opsi kedua adalah melewati jalur tangga yang lebih landai tapi otomatis jaraknya lebih jauh.

Kami memilih opsi pertama. Yakkk!! Curamnya mantap jiwa banget… Melangkah naik 10 -20 tangga kami pasti langsung beristirahat karena ngos-ngosan. Haha…

Pelan tapi pasti, kurang lebih +- 20 menit kami pun tiba di lokasi utama Situs Megalitikum Gunung Padang .

Wow!!

PANO_20171226_153133

Sesampainya di atas kami menyaksikan ribuan batu andesit berbentuk persegi yang panjang saling bertumpuk-tumpuk dan tersebar di atas. Tak lama kemudian saya menemui seorang guide dan bertanya banyak hal mengenai situs ini.

Banyak sekali informasi yang bisa saya dapatkan dari mamang guide ini (lagi-lagi saya lupa namanya… hih! ), diantaranya adalah :

  • Dari penelitian yang dilakukan para ahli melalui uji radiometrik karbon (carbon dating, C14) pada laboratorium Beta Miami, di Florida AS, para peneliti menerka bahwa karbon yang didapat dari pengeboran pada kedalaman 5 meter sampai dengan 12 meter berusia 14.500-25.000 tahun. Dari hasil ini dapat ditarik kesimpulan bahwa situs Gunung Padang lebih tua dari Piramida.
  • Dari batu-batu yang ada tak ada ditemukan tulisan ataupun gambar sama sekali, artinya sangat mungkin bahwa ketika situs ini ada manusia (yang ada) belum mengenal tulisan atau gambar, bahkan bisa jadi manusia pun belum ada.
  • situs Gunung padang diduga dimanfaatkan sebagai tempat pemujaan bagi masyarakat yang bermukim di sekitar sana (tempat bersemedi dan berdoa)

Abis ngobrol-ngobrol sama si mamang, kami pun berkeliling sambil melihat-lihat. Ada sebuah tumpukan batu yang dianggap seperti sebuah alat musik. Konon jika dipukul, batu tersebut akan mengeluarkan suara seperti musik.

PANO_20171226_152846

Oh iya, berada di lokasi ini mengingatkan saya akan sebuah objek wisata yang berada di Peru, Amerika Selatan. Namanya Machu Picchu. Objek wisata yang merupakan lokasi reruntuhan Kerajaan Inca yang terletak di wilayah pegunungan pada ketinggian sekitar 2.350 m di atas permukaan laut.

Kalau dari popularitas sih dijamin Machu Picchu lebih terkenal, tapi dari segi sejarah dijamin sebaliknya.

Boleh donk saya menyebut Gunung Padang ini adalah Machu Picchu-nya Indonesia. Hehe…

Kurang lebih 2 jam kami berkeliling dan menikmati keindahan alam dari atas Gunung Padang, kami pun pulang.

Ternyata wisata prasejarah itu asyik juga. 😀

Kalau ke Peru kejauhan, ke Gunung Padang dulu ajalahhh…. Ga kalah keceh! 😀

 

 

 

Tentang mengeluh dan bersyukur

Mengeluh itu manusiawi. Banget!

Tapi, menurut saya, mengeluh menjadi sangat tidak manusiawi ketika jumlah keluhan kita dalam sehari jauh lebih jika dibandingkan dengan jumlah ucapan syukur kita.

Jujur saja, ada begitu banyak hal yang bisa disyukuri bahkan sejak pertama kali kita membuka mata di pagi hari. Bersyukur masih bisa melewati malam, bersyukur bisa bangun tidur dengan sehat dan semalam tidurnya di kasur empuk dan nyenyak, bersyukur punya tempat tinggal, bersyukur masih bisa berganti pakaian.

Bandingkan dengan orang lain dengan kehidupan yang tak seberuntung kita. Yang malamnya harus berjuang sampai tak sempat untuk tidur/istirahat karena harus bekerja banting tulang untuk sesuap nasi. Atau mereka yang tidurnya beralas koran/kardus bekas dan tanpa selimut hangat. And so on… and so on.

Bersyukur bisa dimulai mengasah sense sehingga kita lebih sensitif untuk melihat dari hal-hal kecil yang kadang tidak kita sadari, padahal itu semua adalah karunia dan berkat Tuhan. Alih-alih bersyukur, kita malah kadang lebih fokus untuk mengeluh. Mengeluhkan hal-hal kecil namun melupakan untuk mensyukuri hal-hal besar yang kita dapatkan dalam keseharian kita.

Lagipula memulai dan mengakhiri hari dengan bersyukur konon membuat hidup jauh lebih terasa indah.

Gak percaya?

Buktikan sendiri. 😘

Air, Batu dan Sungai

 kata idep

Pada suatu hari, saya dan temen-temen bermain-main ke sebuah sungai di sebuah desa yang tak jauh dari pusat kota.

Sungai itu lebarnya cukup besar dan terdapat batu-batu. Karena pemandangan di seberang yang cukup menarik and instagramable, kami tertarik untuk menyeberanginya dan kami harus melompati batu-batu yang ada disepanjang kali itu.

Mulai dari batu-batu yang kecil sampai batu-batu berukuran besar.

Langkah-langkah dan lompatan yang harus kami lakukan kadang lompatan kecil, kadang lompatan dengan langkah besar. Lompatan yang aman, dan beberapa lompatan yang berbahaya karena batu yang licin oleh air dan lumut yang bisa saja membuat kami terjungkal kalau tak berhati-hati.

Tidak itu saja, untuk melangkah maju, kami beberapa kali harus melompat ke batu dibelakang kami alias mundur untuk mendapatkan pijakan yang lebih baik dan aman. Dari pada kami harus memaksakan selalu melangkah kedepan namun dengan resiko terantuk dan terpeleset.

For short, akhirnya saya dan teman-temanku tiba di seberang dengan selamat tanpa lecet ataupun benjol.

Sepulangnya dari perjalanan menyeberangi sungai tersebut, saya berpikir bahwa hidup pun demikian.

Seperti menyeberangi sungai tadi dengan batu-batu kecil, besar, licin, berlumut dan arus yang menantang. Terkadang kita harus melewati lompatan kecil. Lompatan besar dalam karir, studi, keluarga. Dengan riak arus, dan tantangan-tantangan yang menghambat perjalanan hidup kita. Bahkan untuk maju lebih jauh, kita pun terkadang harus bersikap bijak, dengan memilih langkah terbaik. Walaupun mungkin saja kita harus mundur sejenak dan mengalah untuk kemudian kembali maju dan meraih apa yang ada didepan kita.

Ahhh…. memang alam sungguh mengajarkan begitu banyak pelajaran dalam hidup.

Melalui batu, sungai dan air saja bisa didapat pelajaran yang begitu berharga.